Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi,
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah ...
semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah ...
keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti,
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja".
(WS Rendra)
Kamis, 01 Oktober 2009
Selasa, 01 September 2009
Hikmah Ramadhan

Kyai Haji Mustofa Bisri, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Mus, beliau menulis mengenai hikmah Ramadhan, yang indah sekali penggambarannya sebagai berikut :
Sebagai hamba Allah SWT yang telah berikrar, sebenarnya apa pun perintah-Nya, kita tidak perlu dan tidak pantas bertanya-tanya mengapa, untuk apa?. Hamba yang baik justru senantiasa ber-husnuzhzhan, berbaik sangka kepada-Nya. Allah SWT memerintahkan atau melarang sesuatu, pastilah untuk kepentingan kita.
Karena Allah SWT Maha Kaya, tidak memiliki kepentingan apa pun. Ia mulia bukan karena dimuliakan; agung bukan karena diagungkan; berwibawa bukan karena ditunduki. Sejak semula Ia sudah Maha Mulia, sudah Maha Agung, sudah Maha Kaya, sudah Maha Berwibawa. Kalau kemudian Ia menjelaskan pentingnya melaksanakan perintah-Nya atau menjauhi larangan-Nya, semata-mata karena Ia tahu watak kita yang suka mempertanyakan, yang selalu menonjolkan kepentingan sendiri.
Maka, sebelum kita mempertanyakan mengapa kita diperintahkan berpuasa, misalnya, Allah SWT telah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
(Q. 2. Al-Baqarah: 183)
"Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan puasa atas kalian sebagaimana diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa."
Jadi, puasa yang diwajibkan sejak dulu kepada kaum sebelum kita, bertujuan utama: agar kita manusia ini bertakwa. Takwa adalah kondisi puncak hamba Allah. Hamba mukmin di dunia ini, dalam proses menuju ketakwaan kepada Allah SWT. Karena semua kebaikan hamba di dunia dan kebahagiaannya di akhirat, kuncinya adalah ketakwaan kepada-Nya. Mulai dari pujian Allah SWT, dukungan dan pertolongan-Nya, penjagaan-Nya, pengampunan-Nya, cinta-Nya, limpahan rejeki-Nya, pematutan amal dan penerimaan-Nya terhadapnya; hingga kebahagiaan abadi di sorga, ketakwaanlah kuncinya. (Baca misalnya, Q.3: 76, 120, 133, 186; Q.5:27; Q. 16: 128; Q. 19: 72; Q. 39: 61; Q. 65: 2-3; Q. 33: 70-71; Q. 49: 13).
Itu garis besarnya. Apabila kebahagiaan yang dicari manusia, itulah kuncinya. Kunci dari Sang Pencipta manusia dan kebahagiaan itu sendiri. Seringkali, manusia merasa mengerti dan tahu jalan menuju kebahagiaan. Mengabaikan tuntunan Tuhannya. Ternyata tersesat. Akhirnya, kebahagiaan yang dicari, kesengsaraan yang didapat. Di zaman modern ini misalnya, banyak orang menganggap kebahagiaan bisa didapat dari materi dan orang pun berlomba-lomba mengejar materi. Seringkali, sampai “kaki dijadikan kepala, kepala dijadikan kaki”. Ujung-ujungnya, karena materi ternyata tidak kunjung memberi kebahagiaan, mereka pun lari kepada yang lebih mudarat lagi: mengonsumsi obat-obatan. Narkoba.
Untunglah, Allah menyediakan satu bulan, bulan suci, dimana kita diberi kesempatan untuk melakukan muhasabah yang lebih intens. Kita diberi anugerah luar biasa yang namanya p u a s a. Di bulan Ramadan di mana kita berpuasa, ritme dan gaya hidup kita berubah. Jadwal makan pun berubah dengan satu kelebihan: kita memenuhinya dengan teratur. Maka, banyak kalangan ahli yang kemudian mengaitkan puasa dengan kesehatan, merujuk sabda Nabi kita, “Shuumuu tashihhuu”, (Berpuasalah kalian, maka kalian akan sehat).
Dengan berpuasa, tidak hanya makan-minum kita menjadi teratur; malah para ahli mengatakan bahwa puasa dapat membersihkan dari tubuh kita, unsur-unsur buruk yang membuat kita sakit.
Jadi, puasa bulan Ramadan, bukan saja dianugerahkan Allah bagi kepentingan ruhaniah, tapi juga jasmaniah kita. Atau dengan kata lain, Allah menganugerahkan kepada kita puasa sebagai sarana menyempurnakan diri. Jasmaniah dan ruhaniah. Kalau ungkapan “Al-‘aqlus saliim fil jismis saliim” menyiratkan pentingnya menjaga kesehatan jasmani agar akal menjadi sehat, maka puasa justru memberi peluang kepada kita untuk sekaligus meraih keduanya.
Dengan puasa, hamba Allah digembleng untuk menjadi manusia yang benar-benar sehat luar dalam yang selalu mengingat Sang Penciptanya. Bukan manusia penyakitan yang gampang lupa kepada Tuhannya. Orang yang lupa Tuhannya, seperti difirmankanNya sendiri dalam kitab sucinya al-Quran, dibuat lupa kepada dirinya sendiri.(Q. 59: 19).
Mari kita sikapi bulan Ramadan dengan segala suasana khusyuknya ini dengan sebaik-baiknya. Berpuasa sesuai aturan dan dengan merenungkan hikmah-hikmahnya. Kita penuhi saat-saatnya dengan meningkatkan amal ibadah yang tidak hanya bersifat ritual mahdhah. Dan dalam hal ini, perlu kita waspadai jebakan si serakah industri, termasuk dan utamanya industri pertelevisian, yang lagi-lagi memanfaatkan momentum bulan suci untuk mengeruk keuntungan materi dan membedaki tujuan komersialnya dengan pupur religi. Selamat Beribadah!
Minggu, 09 Agustus 2009
Puisi mengenang Rendra

Oleh : Taufiq Ismail
Aku disambar berita halilintar kamis malam ketika bulan belum kelam.
Disini dirumah puisi diantara gunung Merapi dan gunung Singgalang.
Sampailah berita seorang sahabatku yang berpulang WS Rendra.
Dia penyair, dramawan, aktor, sutradara, seniman , budayawan, kritikus masyarakat
Seorang yang sangat cinta pada manusia, pada bangsanya, seorang yang tak bisa melihat
Salah urus dan penindasan.
Dalam puisi dan drama yang dia pentaskan dia tak peduli walau untuk itu ia masuk tahanan.
Willy telah 48 tahun terjalin persahabatan, sejak 1961 kita berteman, berdebat, bertukar fikiran, bertengkar, menggunting, menjahit dan menambal zaman.
Pergi kesana dan kemari panjang sudah perjalanan, kaki langit ternyata jauh dalam jangkauan.
Apa yang selalu sandal kita, rasa dalam injakan peluh, airmata, daki, kemarau ,angin dan taufan.
Willy, pada suatu hari cucuku Aidan dan Rania berkata, Datuk pilihkan dari Eyang Rendra puisi cintanya.
Saya memandang cucu-cucu saya, pilihanmu untuk puisi-puisi cinta pada Eyang Rendra alangkah tepatnya.
Dengarkan ini satu berjudul Stanza Datuk bacakan :
Ada burung dua jantan dan betina hinggap didahan,
Ada daun tua tidak jantan tidak betina gugur didahan,
Ada angin dan kapuk dua-dua sudah tua, pergi ke selatan,
Ada burung ,daun,kapuk,angin,dan mungkin juga debu mengendap dalam nyanyiku.
Mendengar puisi cinta eyang Rendra itu betapa senangnya hati cucu-cucuku
Willy ! mendengar kau sakit dibulan Juli, pergilah aku dan istriku Ati, menjenguk kau yang terbaring sendiri, ditemani Clara, Ken sedang pulang,
Diruang gawat darurat di rumah sakit ini, bersama Amaq Baldjun dan Jose Rizal Manua, kau telentang ditempat tidur, jarum infuse ditangan, kau tidak boleh banyak bicara, tapi Willy, kau gembira sekali, banyak bicara begitu begini, tentang penyakit dari jantung hingga ke ginjal, kau sebenarnya tak bpoleh banyak bicara, tapi siapa yang bisa mencegahmu bicara.
Akhirnya aku ajak kita berdoa bersama, sementara berdoa kita mengangis pula, siapa yang bisa mencegah titiknya air mata. Selesai berdoa aku dan Ati permisi pergi, kita berpelukan dan bertangisan.
Sampai diujung tempat tidur, kau panggil kami Fiq ! jangan pergi ! jangan pergi!, aku kembali, doa kita ulangi lagi, airmata makin bercucuran, rupanya itulah pelukan penghabisan.Duapuluh empat hari kemudian, engkau pergi memenuhi panggilan.
Willy! Perjalanan kau terakhir, seindah-indah perjalanan, dihari nisfu Sya’ban menjelang Ramadhan, penuh baraqah bacaan Qur’an.
Dimalam Jum’at kau berangkat, besoknya sesudah selesai jamaah bershalat juma’at, betapa banyaknya orang-orang yang berduka di Cipayung mengantar kau ke pemakaman, betapa tinggi makna ini peristiwa, bahkan inilah kehormatan luar biasa kepergian kau kea lam baqa, tanpa rencana jadilah ia upacara.
Betapa dalam hikmah yang sebenarnya, dapatkah tertangkap oleh mata yang fana.
Selamat jalan sahabat, juru bicara artistic kami, urusan kau bukan semata-mata keindahan estetika, tapi jauh lebih dari itu, seperti yang tulis tujuh tahun yang lalu, dalam sajakmu Do’a Untuk Anak Cucu:
Ya Allah kami dengan cemas menunggu kedatangan burung dara, yang membawa ranting zaitun dikaki bianglala kami bersujud dan berdoa, isinya persis seperti do’aku ini.;
Lindungilah anak cucuku, lindungilah daya hidup mereka, ya Allah satu-satunya Tuhan kami sumber dari hidup kami ini, kuasa yang tanpa tandingan, tempat tumpuan dan gantungan, tak ada samanya diseluruh semesta raya. Allah, Allah, Allah,Allah
Selasa, 04 Agustus 2009
Belajar Mengaku Kalah
Ini saya cuplik tulisan Gus Solah ( Salahuddin Wahid), supaya kita punya pemimpin yang berhati legowo, yang kasihan sama rakyat.
" Ratusan juta orang di seluruh dunia mengikuti proses Pemilihan Presiden AS 2008 melalui televisi. Mendengar pidato kekalahan McCain, semua takjub. Mengagumi kebesaran jiwanya dan terpesona isi pidato kekalahannya yang menyentuh hati. Substansi pidato itu tidak kalah
dibandingkan pidato kemenangan Obama.
Kata McCain, ”Malam ini amat berbeda dengan malam-malam sebelumnya, tidak ada dalam hati saya, kecuali kecintaan saya kepada negeri ini dan kepada seluruh warga negaranya, apakah mereka mendukung saya atau Senator Obama. Saya mendoakan orang yang sebelumnya adalah lawan saya, semoga berhasil dan menjadi presiden saya.”
Al Gore ”versus” Bush
Penghitungan suara Pilpres 2000 (Wapres Al Gore melawan Bush) amat dramatis. Hasil penghitungan suara secara nasional hampir selesai dan siapa pemenangnya bergantung pada penghitungan suara di Florida, yang gubernurnya adalah adik capres Bush. Suara Bush: 2.909.171, suara Gore: 2.907.387. Selisihnya amat kecil: 1.784 suara.
Tim kampanyenya berhasil mencegah Al Gore yang sedang dalam perjalanan untuk mengakui kekalahan di depan publik. Mereka berusaha keras agar dapat di lakukan penghitungan ulang di seluruh Florida. Maka, dimulailah proses hukum yang menegangkan, yang memakan waktu beberapa pekan hingga melibatkan MA Florida dan MA Amerika Serikat.
Pemilihan menggunakan mesin yang ternyata hasil coblosannya sering tidak jelas kalau tidak cukup kuat menekannya. Perdebatan terjadi tentang standar coblosan yang bisa diakui sebagai tanda bahwa si pemilih telah menentukan pilihannya.
Sempat dilakukan penghitungan ulang untuk sejumlah county dan selisih suara menurun tinggal 327 suara. Terjadi tekanan massa pendukung Bush untuk menghentikan proses penghitungan ulang di sebuah county. Lalu, ada perintah untuk menghentikan penghitungan ulang.
Tim Al Gore masih tetap ingin berjuang. Al Gore menelepon ketua tim untuk menghentikan perjuangan itu. Salah satu kalimat Al Gore amat menarik: ”Kalaupun aku menang (dalam penghitungan suara), rasanya aku tidak menang (dalam pengertian lebih luas). Ayahku mengatakan bahwa kekalahan dan kemenangan itu dibutuhkan untuk memuliakan jiwa kita.”
Lalu, Al Gore tampil dalam acara TV bersama Bush yang ada di tempat lain untuk mengakui kekalahan dan menyampaikan selamat kepada Bush. Tidak ada protes atau demo pendukung Al Gore. Ternyata Al Gore betul, dia menerima hadiah Nobel, sedangkan Bush dianggap sebagai salah satu Presiden AS terburuk.
Jesse Owens dan Hitler
Ada kisah menarik pada Olimpiade 1936 di Berlin tentang Jesse Owens, atlet terbesar AS berkulit hitam, pemegang rekor dunia untuk lari 100 meter dan 200 meter. Jerman mempunyai atlet hebat yang bisa menjadi saingan berat Jesse Owens.
Pertarungan antara atlet Jerman dan Owens akan menjadi atraksi paling bergengsi. Karena itu, Hitler memompa semangat atlet Jerman itu. Hitler yang rasis menyatakan, Owens seorang negro yang tidak sepadan dengan atlet Jerman yang berdarah Aria, ras terunggul di dunia. Dia mengatur agar penonton mendukung si atlet Jerman dengan menyoraki Owens agar emosinya terganggu dan kalah.
Ternyata Owens tampil sebagai juara. Hitler tidak dapat menerima kekalahan itu dan tidak bersedia memberikan selamat kepada Owens. Si atlet Jerman yang kalah ternyata bukan rasis dan punya sportivitas tinggi. Dia berani menghampiri dan memberikan selamat kepada Owens di depan Hitler dan puluhan ribu penonton.
Kondisi Indonesia
Bandingkan tiga hal di bagian awal tulisan ini dengan apa yang terjadi di Indonesia. Pidato kekalahan memang belum menjadi tradisi di sini. Namun, mengucapkan selamat meski tidak langsung bertemu, cukup dengan telepon atau melalui pers, sudah merupakan suatu teladan yang baik bagi masyarakat.
Saya tidak tahu apakah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah sempat bertemu dan berjabat tangan dengan Megawati Soekarnoputri pasca-Pilpres 2004. Namun, kita tahu, Taufik Kiemas telah menjalin komunikasi langsung dengan Presiden Yudhoyono. Pak Habibie, tanpa beban datang ke Istana menemui Presiden Yudhoyono. Gus Dur menghadiri upacara peringatan 17 Agustus 2008 dan bersilaturahim Idul Fitri ke Istana Merdeka.
Yang paling parah adalah terjadinya konflik fisik di antara pendukung pasangan calon gubernur di Maluku Utara (Malut). Tak terdengar adanya upaya dari kedua cagub untuk meredam emosi para pendukung. Meski menganggap tidak sah penetapan dan pelantikan Gubernur Malut oleh Mendagri, akan baik jika pihak yang kalah dengan legowo menerima kekalahan dan mengucapkan selamat kepada pemenang. Setelah itu melakukan rekonsiliasi di antara kedua kelompok pendukung.
Menanamkan kesadaran
Kisah Owens dan Al Gore saya dapatkan melalui film. Perlu digali dan disosialisasikan kisah tentang mereka yang kalah bertanding dalam bidang apa pun (politik, olahraga, dan ilmu) yang menunjukkan bagaimana cara menjadi pihak yang kalah secara terhormat, terutama di Indonesia.
Adang Daradjatun berani mengakui kekalahannya dalam pemilihan gubernur DKI di depan pers. Seusai menghadiri sidang untuk mendengarkan pembacaan putusan penolakan MK terhadap gugatan pasangan Wiranto-Wahid tentang hasil penghitungan suara KPU, di depan wartawan saya menyampaikan selamat kepada pasangan SBY-JK dan Mega-Hasyim. Tentu masih banyak lagi contoh lainnya.
Sejak kecil perlu ditanamkan kesadaran, jika sudah kalah dan mengaku kalah, itu terhormat, tidak memalukan atau mencemarkan nama baik. Tindakan itu justru menunjukkan kebesaran jiwa, kedewasaan, dan sikap ksatria. Bayangkan apa jadinya jika Al Gore tetap ngotot dan tidak mau mengaku kalah.
Baik sekali jika dalam Pilpres 2009, capres yang kalah menyampaikan pidato kekalahan. Lalu, tradisi itu diikuti cagub dan cabup. Namun, tradisi itu perlu diikuti proses pemilihan calon yang pertimbangan utamanya bukan uang dan pelaksanaan pemilihannya bersih dan jurdil. Tanpa itu, pengakuan kalah kurang bermakna.
Salahuddin Wahid Pengasuh Pesantren Tebuireng
" Ratusan juta orang di seluruh dunia mengikuti proses Pemilihan Presiden AS 2008 melalui televisi. Mendengar pidato kekalahan McCain, semua takjub. Mengagumi kebesaran jiwanya dan terpesona isi pidato kekalahannya yang menyentuh hati. Substansi pidato itu tidak kalah
dibandingkan pidato kemenangan Obama.
Kata McCain, ”Malam ini amat berbeda dengan malam-malam sebelumnya, tidak ada dalam hati saya, kecuali kecintaan saya kepada negeri ini dan kepada seluruh warga negaranya, apakah mereka mendukung saya atau Senator Obama. Saya mendoakan orang yang sebelumnya adalah lawan saya, semoga berhasil dan menjadi presiden saya.”
Al Gore ”versus” Bush
Penghitungan suara Pilpres 2000 (Wapres Al Gore melawan Bush) amat dramatis. Hasil penghitungan suara secara nasional hampir selesai dan siapa pemenangnya bergantung pada penghitungan suara di Florida, yang gubernurnya adalah adik capres Bush. Suara Bush: 2.909.171, suara Gore: 2.907.387. Selisihnya amat kecil: 1.784 suara.
Tim kampanyenya berhasil mencegah Al Gore yang sedang dalam perjalanan untuk mengakui kekalahan di depan publik. Mereka berusaha keras agar dapat di lakukan penghitungan ulang di seluruh Florida. Maka, dimulailah proses hukum yang menegangkan, yang memakan waktu beberapa pekan hingga melibatkan MA Florida dan MA Amerika Serikat.
Pemilihan menggunakan mesin yang ternyata hasil coblosannya sering tidak jelas kalau tidak cukup kuat menekannya. Perdebatan terjadi tentang standar coblosan yang bisa diakui sebagai tanda bahwa si pemilih telah menentukan pilihannya.
Sempat dilakukan penghitungan ulang untuk sejumlah county dan selisih suara menurun tinggal 327 suara. Terjadi tekanan massa pendukung Bush untuk menghentikan proses penghitungan ulang di sebuah county. Lalu, ada perintah untuk menghentikan penghitungan ulang.
Tim Al Gore masih tetap ingin berjuang. Al Gore menelepon ketua tim untuk menghentikan perjuangan itu. Salah satu kalimat Al Gore amat menarik: ”Kalaupun aku menang (dalam penghitungan suara), rasanya aku tidak menang (dalam pengertian lebih luas). Ayahku mengatakan bahwa kekalahan dan kemenangan itu dibutuhkan untuk memuliakan jiwa kita.”
Lalu, Al Gore tampil dalam acara TV bersama Bush yang ada di tempat lain untuk mengakui kekalahan dan menyampaikan selamat kepada Bush. Tidak ada protes atau demo pendukung Al Gore. Ternyata Al Gore betul, dia menerima hadiah Nobel, sedangkan Bush dianggap sebagai salah satu Presiden AS terburuk.
Jesse Owens dan Hitler
Ada kisah menarik pada Olimpiade 1936 di Berlin tentang Jesse Owens, atlet terbesar AS berkulit hitam, pemegang rekor dunia untuk lari 100 meter dan 200 meter. Jerman mempunyai atlet hebat yang bisa menjadi saingan berat Jesse Owens.
Pertarungan antara atlet Jerman dan Owens akan menjadi atraksi paling bergengsi. Karena itu, Hitler memompa semangat atlet Jerman itu. Hitler yang rasis menyatakan, Owens seorang negro yang tidak sepadan dengan atlet Jerman yang berdarah Aria, ras terunggul di dunia. Dia mengatur agar penonton mendukung si atlet Jerman dengan menyoraki Owens agar emosinya terganggu dan kalah.
Ternyata Owens tampil sebagai juara. Hitler tidak dapat menerima kekalahan itu dan tidak bersedia memberikan selamat kepada Owens. Si atlet Jerman yang kalah ternyata bukan rasis dan punya sportivitas tinggi. Dia berani menghampiri dan memberikan selamat kepada Owens di depan Hitler dan puluhan ribu penonton.
Kondisi Indonesia
Bandingkan tiga hal di bagian awal tulisan ini dengan apa yang terjadi di Indonesia. Pidato kekalahan memang belum menjadi tradisi di sini. Namun, mengucapkan selamat meski tidak langsung bertemu, cukup dengan telepon atau melalui pers, sudah merupakan suatu teladan yang baik bagi masyarakat.
Saya tidak tahu apakah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah sempat bertemu dan berjabat tangan dengan Megawati Soekarnoputri pasca-Pilpres 2004. Namun, kita tahu, Taufik Kiemas telah menjalin komunikasi langsung dengan Presiden Yudhoyono. Pak Habibie, tanpa beban datang ke Istana menemui Presiden Yudhoyono. Gus Dur menghadiri upacara peringatan 17 Agustus 2008 dan bersilaturahim Idul Fitri ke Istana Merdeka.
Yang paling parah adalah terjadinya konflik fisik di antara pendukung pasangan calon gubernur di Maluku Utara (Malut). Tak terdengar adanya upaya dari kedua cagub untuk meredam emosi para pendukung. Meski menganggap tidak sah penetapan dan pelantikan Gubernur Malut oleh Mendagri, akan baik jika pihak yang kalah dengan legowo menerima kekalahan dan mengucapkan selamat kepada pemenang. Setelah itu melakukan rekonsiliasi di antara kedua kelompok pendukung.
Menanamkan kesadaran
Kisah Owens dan Al Gore saya dapatkan melalui film. Perlu digali dan disosialisasikan kisah tentang mereka yang kalah bertanding dalam bidang apa pun (politik, olahraga, dan ilmu) yang menunjukkan bagaimana cara menjadi pihak yang kalah secara terhormat, terutama di Indonesia.
Adang Daradjatun berani mengakui kekalahannya dalam pemilihan gubernur DKI di depan pers. Seusai menghadiri sidang untuk mendengarkan pembacaan putusan penolakan MK terhadap gugatan pasangan Wiranto-Wahid tentang hasil penghitungan suara KPU, di depan wartawan saya menyampaikan selamat kepada pasangan SBY-JK dan Mega-Hasyim. Tentu masih banyak lagi contoh lainnya.
Sejak kecil perlu ditanamkan kesadaran, jika sudah kalah dan mengaku kalah, itu terhormat, tidak memalukan atau mencemarkan nama baik. Tindakan itu justru menunjukkan kebesaran jiwa, kedewasaan, dan sikap ksatria. Bayangkan apa jadinya jika Al Gore tetap ngotot dan tidak mau mengaku kalah.
Baik sekali jika dalam Pilpres 2009, capres yang kalah menyampaikan pidato kekalahan. Lalu, tradisi itu diikuti cagub dan cabup. Namun, tradisi itu perlu diikuti proses pemilihan calon yang pertimbangan utamanya bukan uang dan pelaksanaan pemilihannya bersih dan jurdil. Tanpa itu, pengakuan kalah kurang bermakna.
Salahuddin Wahid Pengasuh Pesantren Tebuireng
Menjadi Negarawan ....
saya mengutip tulisan bung Asro Kamal Rokan dari KBN Antara Minggu, 12 Juli 2009 begini katanya:
Alhamdulillah pemilihan presiden berjalan aman, tertib, dan demokratis. Rakyat telah memutuskan memilih satu dari tiga pasangan calon presiden dan wakil presiden. Dalam penghitungan di tempat pemungutan suara, rakyat pun telah mengetahui hasilnya dan memahami hakikat dari pemilihan – ada kalah dan ada yang menang.
Situasi yang aman dan tertib ini sumbangan terbesar rakyat pada bangsa dan demokrasi yang sedang tumbuh. Para calon presiden – yang menang dan yang kalah setelah keputusan final Komisi Pemilihan Umum (KPU) nanti -- harus berterima kasih pada rakyat yang ikhlas, rakyat yang diam, dan tanpa pamrih itu.
Melalui pemilihan yang tertib dan berkualitas ini, rakyat telah pula mempromosikan harkat dan martabat bangsa ini di dunia internasional. Mereka telah mensejajarkan bangsa dan negara ini dalam deretan negara-negara maju dalam demokrasi. Itulah cara rakyat mengangkat kebanggaan bangsa, yang sempat terpuruk ketika dilanda kerusuhan Mei 1998 lalu.
Setelah rakyat memperlihatkan keikhlasannya dan mengangkat martabat bangsa ini, bagaimana dengan tiga calon yang berkompetisi? Hasil quick count dan hitungan sementara KPU menempatkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono- Boediono meraih suara terbanyak, jauh melebihi Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto, dan Jusuf Kalla-Wiranto.
Hasil ini, meski secara resmi menunggu hitungan final KPU, namun telah dapat menjelaskan bahwa pilpres ini hampir pasti dimenangkan pasangan SBY-Boediono.
Dan, Alhamdulillah. Sehari setelah pilpres, SBY dan JK melakukan komunikasi. JK mengucapkan selamat kepada SBY. Sebaliknya, SBY memuji jasa besar JK terhadap negara dan negara masih membutuhkan JK. ”Masyarakat bisa melihat bahwa adakalanya berkompetisi bisa keras, namun tali silaturahim tetap terjalin. Inilah demokrasi yang semakin matang dan dewasa,’’ kata SBY kepada pers.
Bangsa besar ini bangga memiliki kedua pemimpin tersebut, pemimpin yang sadar kepentingan bangsa jauh lebih besar daripada memelihara kemarahan, apalagi dendam. Keduanya pun sadar bahwa para pendukung mereka justru bisa berdamai dan menjalankan hidup seperti semula. Tidak ada konflik dan semua berjalan damai. Inilah sisi indah demokrasi, yang baru tumbuh di negara besar ini.
Mohammad Natsir, Mohammad Roem, dan Hamka bertahun-tahun di penjara oleh Soekarno karena politik, tanpa proses pengadilan. Namun tokoh-tokoh besar itu memaafkan Soekarno. Mantan Presiden BJ Habibie langsung menyalami Abdurrahman Wahid, presiden yang dipilih MPR, menggantikannya. Keduanya tidak memutuskan silaturahim.
Saya ingat ketika itu: Rabu, 20 Oktober 1999, Pak Habibie hadir pada pelantikan Gus Dur sebagai presiden di Gedung MPR. Sehari sebelumnya, pidato pertanggungjawaban Pak BJH ditolak MPR dengan perbedaan suara tipis. Pendukung Pak BJH merasa dikhianati dan meminta Pak BJH terus maju. Namun, Pak BJH tidak bersedia. Ia justru meminta semua pendukungnya menjaga kedamaian dan mendukung presiden yang terpilih.
Usai pelantikan, sebagai wartawan yang telah lama mengenal Pak BJH, saya menemuinya turun dari lift lobi Gedung MPR. Saya memeluknya dan menyatakan rasa hormat atas sikapnya. Pak Habibie dengan tenang berkata, ''Gus Dur dan Megawati dipilih secara demokratis. Dukunglah mereka, saya percaya mereka akan membawa kemajuan bangsa ini.''
Suara Pak BJH terasa merdu di telinga saya. Setelah itu bersama Ibu Ainun, ia melangkah menuju mobil yang tidak lagi berplat RI-1. Pak BJH melambaikan tangannya kepada semua orang yang melepasnya dengan berbagai perasaan dan kesedihan. Negarawan itu melangkah dengan tegap. Ia tidak merasa dikalahkan, karena ia ikhlas dan tahu bahwa segala sesuatu adalah kehendak Allah.
Lima tahun setelah itu, 20 Oktober 2004, rakyat berharap Megawati Soekarnoputri melakukan hal yang sama terhadap Susilo Bambang Yudhoyono, yang dipilih dalam pemilihan langsung. MPR telah mengirimkan undangan, namun Megawati yang kalah pada pemilihan itu, tidak datang. Sebagai presiden terpilih, Pak SBY telah berupaya menjalin silaturrahim dengan mantan presiden tersebut, namun tidak ada respon.
Keduanya bertemu ketika pengundian nomor calon presiden, akhir Mei lalu. Mereka bersalaman. Pers menempatkan peristiwa langka itu sebagai berita utama. Namun, sebagian rakyat dapat merasakan bahwa peristiwa tersebut sebagai formalitas belaka, tidak benar-benar sebagai keinginan.
Pak Jusuf Kalla telah mengucapkan selamat pada Pak SBY. Ini indah. Pak JK telah melanjutkan tradisi para negarawan sebelumnya – orang-orang yang ikhlas, tidak dendam, dan tidak menempatkan kekuasaan sebagai tujuan. Orang-orang ikhlas memberikan jalan kepada yang lebih berhak, bukan penghadang. Pak JK negawaran. Seorang negarawan akan tetap dihormati, dikenang, dan dirindukan.
Dan, Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto -- yang lahir dari para negarawan besar bangsa ini -- kita harap pada saatnya, melakukan hal yang sama. Mereka dapat menjadikan bangsa ini indah ... (*)
Alhamdulillah pemilihan presiden berjalan aman, tertib, dan demokratis. Rakyat telah memutuskan memilih satu dari tiga pasangan calon presiden dan wakil presiden. Dalam penghitungan di tempat pemungutan suara, rakyat pun telah mengetahui hasilnya dan memahami hakikat dari pemilihan – ada kalah dan ada yang menang.
Situasi yang aman dan tertib ini sumbangan terbesar rakyat pada bangsa dan demokrasi yang sedang tumbuh. Para calon presiden – yang menang dan yang kalah setelah keputusan final Komisi Pemilihan Umum (KPU) nanti -- harus berterima kasih pada rakyat yang ikhlas, rakyat yang diam, dan tanpa pamrih itu.
Melalui pemilihan yang tertib dan berkualitas ini, rakyat telah pula mempromosikan harkat dan martabat bangsa ini di dunia internasional. Mereka telah mensejajarkan bangsa dan negara ini dalam deretan negara-negara maju dalam demokrasi. Itulah cara rakyat mengangkat kebanggaan bangsa, yang sempat terpuruk ketika dilanda kerusuhan Mei 1998 lalu.
Setelah rakyat memperlihatkan keikhlasannya dan mengangkat martabat bangsa ini, bagaimana dengan tiga calon yang berkompetisi? Hasil quick count dan hitungan sementara KPU menempatkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono- Boediono meraih suara terbanyak, jauh melebihi Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto, dan Jusuf Kalla-Wiranto.
Hasil ini, meski secara resmi menunggu hitungan final KPU, namun telah dapat menjelaskan bahwa pilpres ini hampir pasti dimenangkan pasangan SBY-Boediono.
Dan, Alhamdulillah. Sehari setelah pilpres, SBY dan JK melakukan komunikasi. JK mengucapkan selamat kepada SBY. Sebaliknya, SBY memuji jasa besar JK terhadap negara dan negara masih membutuhkan JK. ”Masyarakat bisa melihat bahwa adakalanya berkompetisi bisa keras, namun tali silaturahim tetap terjalin. Inilah demokrasi yang semakin matang dan dewasa,’’ kata SBY kepada pers.
Bangsa besar ini bangga memiliki kedua pemimpin tersebut, pemimpin yang sadar kepentingan bangsa jauh lebih besar daripada memelihara kemarahan, apalagi dendam. Keduanya pun sadar bahwa para pendukung mereka justru bisa berdamai dan menjalankan hidup seperti semula. Tidak ada konflik dan semua berjalan damai. Inilah sisi indah demokrasi, yang baru tumbuh di negara besar ini.
Mohammad Natsir, Mohammad Roem, dan Hamka bertahun-tahun di penjara oleh Soekarno karena politik, tanpa proses pengadilan. Namun tokoh-tokoh besar itu memaafkan Soekarno. Mantan Presiden BJ Habibie langsung menyalami Abdurrahman Wahid, presiden yang dipilih MPR, menggantikannya. Keduanya tidak memutuskan silaturahim.
Saya ingat ketika itu: Rabu, 20 Oktober 1999, Pak Habibie hadir pada pelantikan Gus Dur sebagai presiden di Gedung MPR. Sehari sebelumnya, pidato pertanggungjawaban Pak BJH ditolak MPR dengan perbedaan suara tipis. Pendukung Pak BJH merasa dikhianati dan meminta Pak BJH terus maju. Namun, Pak BJH tidak bersedia. Ia justru meminta semua pendukungnya menjaga kedamaian dan mendukung presiden yang terpilih.
Usai pelantikan, sebagai wartawan yang telah lama mengenal Pak BJH, saya menemuinya turun dari lift lobi Gedung MPR. Saya memeluknya dan menyatakan rasa hormat atas sikapnya. Pak Habibie dengan tenang berkata, ''Gus Dur dan Megawati dipilih secara demokratis. Dukunglah mereka, saya percaya mereka akan membawa kemajuan bangsa ini.''
Suara Pak BJH terasa merdu di telinga saya. Setelah itu bersama Ibu Ainun, ia melangkah menuju mobil yang tidak lagi berplat RI-1. Pak BJH melambaikan tangannya kepada semua orang yang melepasnya dengan berbagai perasaan dan kesedihan. Negarawan itu melangkah dengan tegap. Ia tidak merasa dikalahkan, karena ia ikhlas dan tahu bahwa segala sesuatu adalah kehendak Allah.
Lima tahun setelah itu, 20 Oktober 2004, rakyat berharap Megawati Soekarnoputri melakukan hal yang sama terhadap Susilo Bambang Yudhoyono, yang dipilih dalam pemilihan langsung. MPR telah mengirimkan undangan, namun Megawati yang kalah pada pemilihan itu, tidak datang. Sebagai presiden terpilih, Pak SBY telah berupaya menjalin silaturrahim dengan mantan presiden tersebut, namun tidak ada respon.
Keduanya bertemu ketika pengundian nomor calon presiden, akhir Mei lalu. Mereka bersalaman. Pers menempatkan peristiwa langka itu sebagai berita utama. Namun, sebagian rakyat dapat merasakan bahwa peristiwa tersebut sebagai formalitas belaka, tidak benar-benar sebagai keinginan.
Pak Jusuf Kalla telah mengucapkan selamat pada Pak SBY. Ini indah. Pak JK telah melanjutkan tradisi para negarawan sebelumnya – orang-orang yang ikhlas, tidak dendam, dan tidak menempatkan kekuasaan sebagai tujuan. Orang-orang ikhlas memberikan jalan kepada yang lebih berhak, bukan penghadang. Pak JK negawaran. Seorang negarawan akan tetap dihormati, dikenang, dan dirindukan.
Dan, Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto -- yang lahir dari para negarawan besar bangsa ini -- kita harap pada saatnya, melakukan hal yang sama. Mereka dapat menjadikan bangsa ini indah ... (*)
Indonesia memerlukan budaya ekonomi baru
Rhenald Khasali dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar FE UI, mengatakan :Budaya ekonomi yang melekat pada masyarakat, dunia usaha, dan pemimpin negara di Indonesia saat ini dinilai sudah tidak adaptif terhadap perubahan yang terjadi pada pasar global sehingga akhirnya bangsa ini terus-menerus mengalami krisis.
Untuk itu, dibutuhkan transformasi nilai-nilai budaya ekonomi yang harus didorong dan dimulai dari pemimpin negara.
”Krisis yang terjadi berulang-ulang mencerminkan lemahnya kendali manajerial dalam pelaksanaan kebijakan. Tidak adanya pembelajaran yang diambil, lemahnya penerapan knowledge management, dan kurang kuatnya leadership dalam sistem perekonomian negara,” ujar Rhenald.
Kelemahan tersebut harus diisi dengan perencanaan strategis yang didukung dengan konsepsi manajemen modern yang dilandasi tata nilai, budaya ekonomi, dan core belief.
Itu semua akan membuat bangsa mampu beradaptasi dalam menghadapi berbagai perubahan yang semakin hari semakin berat, lebih variatif, dan datang lebih cepat.
Rhenald mengatakan, krisis yang datang terus-menerus, terakhir krisis 2008-2009, menunjukkan tidak siapnya manusia Indonesia di semua lini dalam menghadapi perubahan.
Perubahan dipandang lebih sebagai sebuah ancaman yang harus dilawan dan dihindari, bukan untuk dihadapi.
”Pengalaman menunjukkan, krisis justru terjadi pada saat manusia tidak mau atau enggan beradaptasi. Pada akhirnya, krisis memaksa manusia untuk berubah,” katanya.
Menurut Rhenald, saat ini perekonomian global, termasuk Indonesia, dipenuhi orang-orang yang hanya mengandalkan kemampuan teknis, tanpa dibekali keyakinan dan nilai-nilai baik.
Akibatnya, perekonomian dikendalikan oleh keserakahan, di mana pelaku ekonomi kerap mengambil jalan pintas untuk mengumpulkan keuntungan sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya.
Nilai-nilai negatif
Kesuksesan hanya melulu diukur dari materi dan kedudukan yang diperoleh. Faktor inilah yang kemudian mendorong terjadinya krisis keuangan global.
Dari kajiannya, Rhenald mengemukakan, ada 10 nilai budaya ekonomi yang negatif, yakni budaya jalan pintas, budaya konflik, budaya saling curiga, budaya mencela, budaya foto-foto, budaya pengerahan otot massa, tidak tahu malu, popularisme, budaya prosedur, dan budaya menunda.
Budaya konflik terjadi karena adanya paradigma yang memandang kompetisi sebagai agresi. Padahal, dalam kompetisi diperlukan pula kerja sama
Adapun budaya foto-foto, tutur Rhenald, diartikan sebagai budaya yang hanya mementingkan diri sendiri, tanpa melihat kondisi lingkungannya secara menyeluruh. (FAJ)
Untuk itu, dibutuhkan transformasi nilai-nilai budaya ekonomi yang harus didorong dan dimulai dari pemimpin negara.
”Krisis yang terjadi berulang-ulang mencerminkan lemahnya kendali manajerial dalam pelaksanaan kebijakan. Tidak adanya pembelajaran yang diambil, lemahnya penerapan knowledge management, dan kurang kuatnya leadership dalam sistem perekonomian negara,” ujar Rhenald.
Kelemahan tersebut harus diisi dengan perencanaan strategis yang didukung dengan konsepsi manajemen modern yang dilandasi tata nilai, budaya ekonomi, dan core belief.
Itu semua akan membuat bangsa mampu beradaptasi dalam menghadapi berbagai perubahan yang semakin hari semakin berat, lebih variatif, dan datang lebih cepat.
Rhenald mengatakan, krisis yang datang terus-menerus, terakhir krisis 2008-2009, menunjukkan tidak siapnya manusia Indonesia di semua lini dalam menghadapi perubahan.
Perubahan dipandang lebih sebagai sebuah ancaman yang harus dilawan dan dihindari, bukan untuk dihadapi.
”Pengalaman menunjukkan, krisis justru terjadi pada saat manusia tidak mau atau enggan beradaptasi. Pada akhirnya, krisis memaksa manusia untuk berubah,” katanya.
Menurut Rhenald, saat ini perekonomian global, termasuk Indonesia, dipenuhi orang-orang yang hanya mengandalkan kemampuan teknis, tanpa dibekali keyakinan dan nilai-nilai baik.
Akibatnya, perekonomian dikendalikan oleh keserakahan, di mana pelaku ekonomi kerap mengambil jalan pintas untuk mengumpulkan keuntungan sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya.
Nilai-nilai negatif
Kesuksesan hanya melulu diukur dari materi dan kedudukan yang diperoleh. Faktor inilah yang kemudian mendorong terjadinya krisis keuangan global.
Dari kajiannya, Rhenald mengemukakan, ada 10 nilai budaya ekonomi yang negatif, yakni budaya jalan pintas, budaya konflik, budaya saling curiga, budaya mencela, budaya foto-foto, budaya pengerahan otot massa, tidak tahu malu, popularisme, budaya prosedur, dan budaya menunda.
Budaya konflik terjadi karena adanya paradigma yang memandang kompetisi sebagai agresi. Padahal, dalam kompetisi diperlukan pula kerja sama
Adapun budaya foto-foto, tutur Rhenald, diartikan sebagai budaya yang hanya mementingkan diri sendiri, tanpa melihat kondisi lingkungannya secara menyeluruh. (FAJ)
Senin, 08 Juni 2009
Sufi Memandang Kekuasaan

Khazanah tasawuf mengenal sebuah kitab sufi klasik berjudul Kasyful Mahjub. Kitab ini ditulis oleh al-Hujwiri yang hidup pada abad kelima Hijriyah. Dari segi fikih, al-Hujwiri mengikuti Imam Abu Hanifah. Dalam Kasyful Mahjub, al-Hujwiri banyak bercerita tentang kisah gurunya itu.
Abu Hanifah hidup pada masa kekuasaan Khalifah al-Mansur dari Dinasti Abbasiyah. Pada suatu saat, khalifah bermaksud untuk mengangkat seseorang sebagai Hakim Agung, waktu itu disebut dengan gelaran Qadi. Sezaman dengan Abu Hanifah, hidup pula tiga orang ulama besar lain, yaitu Sufyan al-Tsauri, Mis’ar bin Qidam dan Syuraih. Khalifah al-Mansur ingin memilih salah satu dari para ulama ahli fikih di kerajaannya untuk dijadikan Qadi.
Mereka pun dipanggil ke istana. Ketika keempat ulama itu berjalan bersama ke istana untuk memenuhi undangan khalifah, Abu Hanifah berpikir untuk menyusun sebuah rencana yang sungguh menarik. Keempat ulama itu memutuskan untuk menolak permintaan khalifah. Mereka membicarakan bagaimana caranya menolak permohonan itu tanpa menyinggung perasaan khalifah. Mau tidak mau, salah seorang di antara mereka harus menjadi hakim agung. Bila semua menolak, bencana akan mengancam mereka karena khalifah al-Mansur terkenal sebagai penguasa tiran yang sangat keras. Kepada ketiga ulama lain, Abu Hanifah mengemukakan rencananya,“Aku akan menolak jabatan itu dengan caraku sendiri. Aku minta Mis’ar untuk berpura-pura gila; Sufyan untuk melarikan diri; dan Syuraih-lah yang akan dijadikan Qadi”.
Sufyan al-Tsauri pun kabur ke sebuah pelabuhan dan bersembunyi di bawah kapal yang akan berlayar. Ketiga ulama lainnya berangkat menuju istana khalifah. Sesampainya di tempat itu, al-Mansur berkata kepada Abu Hanifah, “Engkaulah yang harus menjadi hakim agung!” Abu Hanifah menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, aku bukanlah seorang Arab melainkan hanya sahabat orang-orang Arab. Pemimpin-pemimpin Arab tidak akan menerima keputusan hakim agung seperti aku”. Abu Hanifah berkata demikian karena ia berasal dari Persia, sementara al-Mansur adalah keturunan dari Abbas, paman Rasulullah. Dengan mengemukakan alasan itu, ia meminta agar al-Mansur tidak mengangkatnya sebagai Qadi.
Al-Mansur berkata, “Jabatan ini tidak ada hubungannya dengan garis keturunan. Yang dibutuhkan dalam jabatan ini adalah ilmu dan engkau adalah ulama paling terkemuka di zaman ini”. Abu Hanifah tetap mempertahankan alasannya dan berkata bahwa ia tidak cocok untuk jabatan setinggi itu. Al-Mantsur menjawab bahwa keberatan Abu Hanifah itu tak lain hanyalah kebohongan untuk menutupi ketidaksediaannya. Abu Hanifah berkata,“Jika kukatakan bahwa aku tidak cocok untuk jabatan itu dan engkau mengatakan bahwa ucapanku adalah sebuah kebohongan, tentu tidak dibenarkan seorang hakim agung dari kaum Muslimin untuk berbohong. Tidak benar pula mempercayakan kepada seseorang yang kau sebut sebagai pembohong, kehidupan, kekayaan dan kehormatan yang kau miliki”. Abu Hanifah pun berhasil mengelak dari jabatan hakim agung.
Setelah itu, Mis’ar bin Qidam tampil ke muka dan menjabat tangan Khalifah al-Mansur, seraya berkata,“Apa kabarmu dan kabar anak-anak serta hewan ternak piaraanmu?” Ulama itu mengatakan hal ini kepada sang penguasa tanpa sopan santun sama sekali. Ia menampakkan bahwa perbuatannya itu dilakukan di luar kesadarannya. “Keluarkan orang ini!” teriak al-Mansur, “ia sudah gila!”.
Tinggallah seorang ulama lagi. Syuraih pun diberitahu bahwa ialah yang harus mengisi kekosongan jabatan Qadi. Seperti dua orang temannya yang lain, ia pun mengajukan keberatannya sendiri,“Aku ini mudah sedih dan senang melucu. Orang yang penyedih dan suka bercanda tidak layak menjadi hakim agung”. Khalifah al-Mansur meminta ia untuk meminum obat agar pikirannya pulih kembali. Akhirnya, Syuraih diangkat menjadi Qadi. Sejak Syuraih menjadi Qadi, Abu Hanifah tak pernah lagi berbicara kepadanya sepatah kata pun dan tak pernah berkunjung ke rumahnya sekali pun.
Dari kisah ini, tersimpuh pelajaran yang amat berharga, yakni bagaimana para ulama besar berusaha untuk menolak jabatan tinggi di dalam pemerintahan. Demi menjauhi kekuasaan, mereka melakukan segala cara. Sufyan al-Tsauri, seorang fakih besar yang pada zamannya dianggap pendiri mazhab al-Tsauri, memilih untuk melarikan diri meninggalkan keluarga dan tanah airnya untuk menghindari jabatan. Ia baru kembali setelah Syuraih diangkat menjadi Qadi. Abu Hanifah berusaha dengan keras menolak perintah khalifah dan Mis’ar bin Qidam berpura-pura sakit ingatan untuk mengelak permintaan al-Mantsur.
Al-Hujwiri menutup cerita itu dengan menulis,“Kisah ini tidak saja menunjukkan kebijaksanaan Abu Hanifah, tetapi juga keteguhannya di dalam kebenaran dan tekadnya untuk tidak membiarkan dirinya dibuai dalam keinginan untuk mencari kemegahan dan popularitas. Lebih jauh, hal ini merupakan pembenaran bagi malamatiyyah. Malamatiyyah adalah satu konsep di dalam tasawuf di mana seorang sufi berusaha untuk menunjukkan kejelekkan dirinya sehingga orang tidak menilainya berlebih-lebihan. “Kelakuan Abu Hanifah amat berbeda dengan perbuatan para ulama sekarang. Mereka menjadikan istana para sultan sebagai kiblat mereka dan rumah para penjahat sebagai puri mereka.”
Kalimat-kalimat ini sangat menarik, karena ditulis al-Hujwiri pada abad kelima Hijriyah, seribu tahun yang lalu. Namun, ketika membaca ucapan al-Hujwiri, seakan-akan al-Hujwiri berkisah tentang keadaan saat ini. Hari ini, ada banyak tayangan para ulama yang berkiblat kepada istana para penguasa negeri ini. Dan ulama seperti Abu Hanifah, demi mempertahankan integritas dan kepribadiannya, mampu menolak jabatan, setinggi apa pun kekuasaan itu. Sebuah kerinduan akan ulama yang memilih kesucian hati ketimbang keindahan rumah mereka.
dikutip dari tulisan: Muhammad Soffa Ihsan
Penulis adalah Redaktur Pelaksana Majalah MataAir
Langgan:
Entri (Atom)