Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Agustus 2009

Belajar Mengaku Kalah

Ini saya cuplik tulisan Gus Solah ( Salahuddin Wahid), supaya kita punya pemimpin yang berhati legowo, yang kasihan sama rakyat.

" Ratusan juta orang di seluruh dunia mengikuti proses Pemilihan Presiden AS 2008 melalui televisi. Mendengar pidato kekalahan McCain, semua takjub. Mengagumi kebesaran jiwanya dan terpesona isi pidato kekalahannya yang menyentuh hati. Substansi pidato itu tidak kalah

dibandingkan pidato kemenangan Obama.

Kata McCain, ”Malam ini amat berbeda dengan malam-malam sebelumnya, tidak ada dalam hati saya, kecuali kecintaan saya kepada negeri ini dan kepada seluruh warga negaranya, apakah mereka mendukung saya atau Senator Obama. Saya mendoakan orang yang sebelumnya adalah lawan saya, semoga berhasil dan menjadi presiden saya.”

Al Gore ”versus” Bush

Penghitungan suara Pilpres 2000 (Wapres Al Gore melawan Bush) amat dramatis. Hasil penghitungan suara secara nasional hampir selesai dan siapa pemenangnya bergantung pada penghitungan suara di Florida, yang gubernurnya adalah adik capres Bush. Suara Bush: 2.909.171, suara Gore: 2.907.387. Selisihnya amat kecil: 1.784 suara.

Tim kampanyenya berhasil mencegah Al Gore yang sedang dalam perjalanan untuk mengakui kekalahan di depan publik. Mereka berusaha keras agar dapat di lakukan penghitungan ulang di seluruh Florida. Maka, dimulailah proses hukum yang menegangkan, yang memakan waktu beberapa pekan hingga melibatkan MA Florida dan MA Amerika Serikat.

Pemilihan menggunakan mesin yang ternyata hasil coblosannya sering tidak jelas kalau tidak cukup kuat menekannya. Perdebatan terjadi tentang standar coblosan yang bisa diakui sebagai tanda bahwa si pemilih telah menentukan pilihannya.

Sempat dilakukan penghitungan ulang untuk sejumlah county dan selisih suara menurun tinggal 327 suara. Terjadi tekanan massa pendukung Bush untuk menghentikan proses penghitungan ulang di sebuah county. Lalu, ada perintah untuk menghentikan penghitungan ulang.

Tim Al Gore masih tetap ingin berjuang. Al Gore menelepon ketua tim untuk menghentikan perjuangan itu. Salah satu kalimat Al Gore amat menarik: ”Kalaupun aku menang (dalam penghitungan suara), rasanya aku tidak menang (dalam pengertian lebih luas). Ayahku mengatakan bahwa kekalahan dan kemenangan itu dibutuhkan untuk memuliakan jiwa kita.”

Lalu, Al Gore tampil dalam acara TV bersama Bush yang ada di tempat lain untuk mengakui kekalahan dan menyampaikan selamat kepada Bush. Tidak ada protes atau demo pendukung Al Gore. Ternyata Al Gore betul, dia menerima hadiah Nobel, sedangkan Bush dianggap sebagai salah satu Presiden AS terburuk.

Jesse Owens dan Hitler

Ada kisah menarik pada Olimpiade 1936 di Berlin tentang Jesse Owens, atlet terbesar AS berkulit hitam, pemegang rekor dunia untuk lari 100 meter dan 200 meter. Jerman mempunyai atlet hebat yang bisa menjadi saingan berat Jesse Owens.

Pertarungan antara atlet Jerman dan Owens akan menjadi atraksi paling bergengsi. Karena itu, Hitler memompa semangat atlet Jerman itu. Hitler yang rasis menyatakan, Owens seorang negro yang tidak sepadan dengan atlet Jerman yang berdarah Aria, ras terunggul di dunia. Dia mengatur agar penonton mendukung si atlet Jerman dengan menyoraki Owens agar emosinya terganggu dan kalah.

Ternyata Owens tampil sebagai juara. Hitler tidak dapat menerima kekalahan itu dan tidak bersedia memberikan selamat kepada Owens. Si atlet Jerman yang kalah ternyata bukan rasis dan punya sportivitas tinggi. Dia berani menghampiri dan memberikan selamat kepada Owens di depan Hitler dan puluhan ribu penonton.

Kondisi Indonesia

Bandingkan tiga hal di bagian awal tulisan ini dengan apa yang terjadi di Indonesia. Pidato kekalahan memang belum menjadi tradisi di sini. Namun, mengucapkan selamat meski tidak langsung bertemu, cukup dengan telepon atau melalui pers, sudah merupakan suatu teladan yang baik bagi masyarakat.

Saya tidak tahu apakah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah sempat bertemu dan berjabat tangan dengan Megawati Soekarnoputri pasca-Pilpres 2004. Namun, kita tahu, Taufik Kiemas telah menjalin komunikasi langsung dengan Presiden Yudhoyono. Pak Habibie, tanpa beban datang ke Istana menemui Presiden Yudhoyono. Gus Dur menghadiri upacara peringatan 17 Agustus 2008 dan bersilaturahim Idul Fitri ke Istana Merdeka.

Yang paling parah adalah terjadinya konflik fisik di antara pendukung pasangan calon gubernur di Maluku Utara (Malut). Tak terdengar adanya upaya dari kedua cagub untuk meredam emosi para pendukung. Meski menganggap tidak sah penetapan dan pelantikan Gubernur Malut oleh Mendagri, akan baik jika pihak yang kalah dengan legowo menerima kekalahan dan mengucapkan selamat kepada pemenang. Setelah itu melakukan rekonsiliasi di antara kedua kelompok pendukung.

Menanamkan kesadaran

Kisah Owens dan Al Gore saya dapatkan melalui film. Perlu digali dan disosialisasikan kisah tentang mereka yang kalah bertanding dalam bidang apa pun (politik, olahraga, dan ilmu) yang menunjukkan bagaimana cara menjadi pihak yang kalah secara terhormat, terutama di Indonesia.

Adang Daradjatun berani mengakui kekalahannya dalam pemilihan gubernur DKI di depan pers. Seusai menghadiri sidang untuk mendengarkan pembacaan putusan penolakan MK terhadap gugatan pasangan Wiranto-Wahid tentang hasil penghitungan suara KPU, di depan wartawan saya menyampaikan selamat kepada pasangan SBY-JK dan Mega-Hasyim. Tentu masih banyak lagi contoh lainnya.

Sejak kecil perlu ditanamkan kesadaran, jika sudah kalah dan mengaku kalah, itu terhormat, tidak memalukan atau mencemarkan nama baik. Tindakan itu justru menunjukkan kebesaran jiwa, kedewasaan, dan sikap ksatria. Bayangkan apa jadinya jika Al Gore tetap ngotot dan tidak mau mengaku kalah.

Baik sekali jika dalam Pilpres 2009, capres yang kalah menyampaikan pidato kekalahan. Lalu, tradisi itu diikuti cagub dan cabup. Namun, tradisi itu perlu diikuti proses pemilihan calon yang pertimbangan utamanya bukan uang dan pelaksanaan pemilihannya bersih dan jurdil. Tanpa itu, pengakuan kalah kurang bermakna.

Salahuddin Wahid Pengasuh Pesantren Tebuireng

Jumat, 07 November 2008

Meritokrasi


“If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible, who still wonders if the dream of our founders is alive in our time, who still questions the power of our democracy, to night is your answer , change has come to America “

itu pidato Obama pada saat ia memenangi perhitungan suara dalam pemilihan presiden di Amerika Serikat.
Kata-kata Obama dalam pidato itu intinya menegaskan bahwa Amerika adalah negeri kesempatan , land of opportunity, dimana semua mimpi-mimpi bisa diwujudkan, dimana potensi terbaik manusia bisa dieksplorasi, dieksploitasi, tidak peduli ras,asal usul keturunan, perbedaan agama sehingga melahirkan semboyan the great American dreams.

Inilah mimpi besar bangsa Amerika yang bersumber dari mimpi pengembara, imigran dari berbagai bangsa, para pencari peruntungan yang mengadu nasib di benua baru, pada pertengahan abad lalu yang menjadi pioneer dan founding fathers nya bangsa itu.

Mimpi itu menegaskan bahwa siapun dia yang berjuang dan bekerja sepenuhnya mengejar mimpinya, sekalipun segila ataupun senaïf apapun , dia berhak memperoleh hak dan kesempatan untuk mewujudkan dan mengalami serta menikmati mimpinya.

Untuk itulah mereka berjuang sepenuh tenaga membangun system demokrasi hingga hari ini, dan masih terus berjuang hingga hari ini melawan common enemy yakni ketidakadilan , gender, rasisme, arogansi, perbedaan paham, agama, chauvinism ,diskriminasi dan lainnya.

Inspirasi i yang datang dari bangsa Perancis yakni liberte, egalite, fraternite, itulah yang merasuki bangsa Amerika , yang sebenarnya ini pesan semua agama, bahwa semua manusia pada hakekatnya sama, yang membedakannya hanyalah taqwanya kepada Tuhan, takwa selalu menghasilkan manfaat dan kontribusi kepada manusia, sedang maksiat hanya menimbulkan mudharat dan kekacauan dimana-mana.

Apa yang saya sampaikan diatas bukan maksudnya mau memuja-muja Amerika, karena kita pun saat ini tengah berjuang untuk mewujudkan mimpi kita dengan platform yang sama.

Seorang pengamat politik dari Singapore pernah mengatakan bahwa ada tiga syarat utama jika suatu masyarakat itu hendak maju , yaitu bahwa hubungan kemasyarakatan harus menerapkan prinsip meritokrasi, yakni penghargaan masyarakat sepantasnya diberkan kepada mereka yang berprestasi dan member kontribusi yang paling banyak. Hal ini belum sepenuhnya berjalan di negeri kita, karena hubungan sosial kita masih diwarnai distorsi berupa nepotisme, kolusi dan korupsi, bahkan primordialisme masih kuat berakar dalam kehidupan sosial kita.

Hal ini semakin diperparah dengan budaya kita yang masih penuh dengan formalitas dan simbol-simbol. Orang masih dinilai berdasarkan atributnya, belum jati dirinya, kita masih terkagum kagum melihat gelar seseorang, padahal belum tentu kemampuannya, perilakunya setara dengan gelarnya. Sampai sekarangpun dalam penerimaan pegawai baik di Departemen atau perusahaan masih mementingkan gelar disbanding kemampuannya.

Dalam beragama apalagi, orang dinilai shaleh hanya karena gelarnya haji, ibadah ritualnya rajin meskipun akhlaknya belum tentu. Semakin maju suatu masyarakat maka system meritokrasi semakin mengemuka dan dibutuhkan .
Syarat lebih lanjut dari suatu kemajuan adalah kemudahan mengakses informasi, tidak boleh ada barrier to entry atas informasi. Sedemikian pentingnya informasi itu karena sebenarnya itulah yang semata-mata dicari manusia dalam semua lintasan peradaban, terlebih lagi dialam modern dewasa ini. Hanya dengan informasilah segala sesuatunya bergerak, dan siapa saja yang menguasai informasi, maka ia menguasai kemajuan. Jadi information is a power, ia adalah bahan baku ilmu pengetahuan manusia.

Informasi dapat di akses melalui beragam cara, mulai dari pendidikan, hingga hiburan, apalagi saat ini media informasi begitu beragam, maka berikanlah sebanyak banyaknya informasi, terutama juga yang bersifat langitan/heavenly, supaya kita bisa melihat wisdom, ultimate goal dari kehidupan kita.
Dan prasyarat kemajuan lainnya adalah kaum muda, yang terdidik dan mengambil peran elementer dalam kehidupan sosial kita. Amerika sudah membuktikannya dengan banyak pemimpin muda yang tampil menjadi presiden, tidak hanya Obama yang menjadi presiden diusia 47 tahun, tapi bahkan John F Kennedy lebih muda lagi 43 tahun sudah menjadi Presiden Amerika. Dimanapun didunia ini yang mengambil inisiatif kemajuan suatu kaum adalah orang muda, bahkan bangsa kita dimulai dari sumpah para pemuda, Ir Soekarno menjadi presiden dalam usia 40 tahun.
Di negeri kita tampaknya senioritas masih jadi prioritas, tak apa karena Jepang pun sama, karena senioritaspun bisa didasarkan pada meritokrasi.

Sekali tiga unsure ini bisa mengambil tempatnya yang layak dalam hubungan sosial kemasyarakatan kita, insya Allah kemajuan akan ada ditangan kita , kita juga tidak kekurangan orang seperti Obama kok.

Selasa, 05 Agustus 2008

Renungan menyambut HUT Kemerdekaan RI ke 63



Tak terasa 63 tahun sudah Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri dan merdeka dari penjajahan, memang untuk ukuran hidup suatu bangsa yang usia 100 tahun, masih tergolong muda bahkan bisa dibilang setaraf dengan masa kanak-kanak yang akan berangkat remaja.

Jika dilihat dari perspektif ini tentu bisa dimaklumi, jika kehidupan sosial kita yang masih belum teratur dan tertib, bahkan masih dipenuhi gejolak dinamika berupa pertengkaran antar sesama komponen bangsa, kondisi ini mirip keadaan temper tantrum , suka mengamuk dan merajuk pada anak-anak, cerminan sikap yang belum memahami tanggung jawab .


Akhir-akhir ini kita juga disibukkan dengan semakin meraja lela tindakan korupsi dalam kehidupan pejabat publik kita dan kehidupan keseharian kita.


Semua ini mencerminkan kita masih berada dalam taraf anak-anak dalam kehidupan berbangsa.


Datangnya era reformasi, memberikan bangsa kita berkesempatan untuk memasuki alam remaja yang juga penuh gejolak, dan sibuk bereksperimen dengan kebebasan yang muncul secara tiba-tiba setelah sekian lama terkekang dibawah rezim Orde Baru yang serba otoriter.


Kebebasan yang datang tiba-tiba itu memunculkan sikap eforia kebebasan dimana-mana, dan serba anti kemapanan, karena kemapanan dianggap identik dengan warisan rezim lama yang kepalang dianggap tidak benar sehingga harus segera ditinggalkan, sementara sistem dan nilai-nilai baru belum ada, dan masih perlu waktu, ini membuat kita jadi limbung.


Kondisi ini persis seperti anak remaja yang baru tahu dunia diluar rumah, tapi belum mengerti apa-apa dan masih serba meraba-raba. Keadaan mental anak-anak dan remaja adalah berputar disoal senang dan benci, enak dan tak enak, dan inginnya serba instan serba materil, bukan persoalan benar salah dan baik buruk yang semestinya dicari.


Dengan metafor seperti itu, maka masa kanak-kanak dan remaja bangsa Indonesia hanya bisa diselamatkan apabila pendidikan anak bangsa dapat dilakukan dengan baik dan benar serta berkesinambungan dalam membentuk nilai-nilai yang luhur. Seperti kejujuran, visioner, tanggung jawab, kepedulian.


Karena hakikat alam semesta bahwa semua yang terjadi dialam materi, merupakan refleksi dari apa yang terjadi dialam fikiran (baca mental), Goethe, seorang filsuf terkenal Jerman pernah berkata , awasi pikiranmu karena ia akan membentuk kata-kata, awasi kata-katamu karena ia membentuk tindakan kita, awasi tindakanmu karena ia membentuk karakter mu, dan awasi karaktermu karena ia menentukan nasibmu.


Jika kita merenungi apa yang dikatakan Goethe tersebut diatas, gejala kekisruhan yang terjadi dalam perjalanan kehidupan nasional kita ini, sebenarnya merupakan refleksi kerusakan yang terjadi dialam fikiran kita sebagai bangsa, hal ini pernah disampaikan oleh Bapak Presiden kita Susilo Bambang Yudhoyono menanggapi berbagai kekisruhan yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


Semua hal yang terjadi ini bisa saja merupakan buah pendidikan masa lalu yang lebih menekankan pada pembangunan fisik material dibandingkan dengan pembangunan mental spiritual bangsa kita. Ibarat orang yang sibuk mengubah pakaian agar bisa kelihatan menjadi seseorang yang terhormat, tetapi perilaku dirinya sebenarnya rendah, maka apapun yang dipakaikan kepadanya akan memperlihatkan perilaku rendahnya itu, sebab pakaian hanyalah sebatas kulit luar, atribut yang kurang bisa menutupi karakter seseorang yang dasarnya tidak berbudaya.


Negeri tetangga mungkin bisa dijadikan contoh bagaimana membangun suatu tata nilai, suatu budaya sehingga berkembang menjadi masyarakat yang lebih tertib dan teratur dan relatif lebih maju, karena para pemimpin bangsanya benar-benar memberi perhatian besar pada pendidikan anak bangsanya.


Bahkan dulu di era tahu 70 an bahkan sampai sekarang pun mereka mengirim pelajarnya ke negeri kita untuk belajar, bahkan ke seluruh dunia untuk menimba ilmu, yang kelak bisa dimanfaatkan bagi pembangunan tanah airnya.


Sekarang kita bisa menyaksikan kemajuan yang pesat yang mereka raih, bahkan sekarang mereka yang menawarkan pendidikan kepada kita, ini ibarat kebo nusu gudhel, ini menunjukkan betapa besarnya dampak pendidikan dan pembinaan pola pikir anak bangsa yang akhirnya bisa membentuk karakter dan tata nilai yang mendukung kemajuan peri kehidupan modern.


Ini menjelaskan mengapa reformasi kita gagal dan belum menunjukkan hasil yang diinginkan, coba kita perhatikan selama ini yang kita perbaiki dalam kehidupan berbangsa adalah, proses, prosedur, peraturan yang semuanya sebenarnya hanya atribut, kulit dan pakaian, sementara pada saat yang sama pendidikan dan pembinaan karakter bangsa ketinggalan bahkan tambah terpuruk.


Kita bisa melihat kecilnya anggaran pendidikan kita yang masih berkisar 17%, masih dibawah standar Undang-Undang Pendidikan yang mensyaratkan minimal 20 %, apatah lagi bila dibandingkan dengan negara tetangga yang lebih dari 30 %, hal ini jelas jauh dari keseimbangan. Perubahan proses , prosedur , peraturan tanpa diimbangi dengan pendidikan dan pembinaan yang memadai , tak banyak artinya bagi perubahan budaya


Kehidupan kita hari ini bisalah dikatakan semuanya serba semaunya, reformasi kita maknai sebagai bisa melakukan apapun sesuka hati kita atas nama hak azasi, tak peduli apakah ia melanggar hak orang lain, hak publik yang penting kita untung.


Kemerdekaan yang pada 17 agustus setiap tahun kita peringati hanyalah sebuah pintu gerbang menuju alam kebebasan, dan kebebasan itu sejatinya merupakan kebebasan memilih, karena semua dalam kehidupan ini adalah pilihan-pilihan. Memilih yang benar dari yang salah, yang sejati dari yang imitasi, yang baik dari yang buruk, namun semua itu memerlukan sesuatu kemampuan yang bersumber dari olah pikir dan rasa yang baik agar bisa membentuk karsa yang bisa diwujudkan, semua itu membutuhkan pendidikan , pembelajaran.


Didalam kebodohan orang hanya akan memilih yang enak, yang nyaman yang bisa langsung dirasakan, sehingga yang berkembang adalah budaya yang tidak memiliki ketinggian, sebaliknya perlaku rendah yang merajalela, seperti korupsi, keserakahan , arogansi , mengejar kenikmatan sesaat dan tak peduli dan empati pada orang lain apatah lagi pada alam lingkungan.


Dalam tataran keberagamaan, Islam sebagai agama mayoritas yang begitu tinggi nilai-nilai kebenarannya hanya dipahami dan diaplikasikan secara simbolis, penuh formalitas belum menyentuh keberagamaan yang hakiki yang penganutnya menjadi rahmat bagi alam.


Semua kegagalan kita hari ini karena kita gagal membangun jiwa kita, kita sibuk membangun hal-hal fisik material.Dalam lagu Indonesia Raya disana kita diminta terlebih dahulu membangun jiwa , baru kemudian membangun badan agar terwujud yang namanya Indonesia Raya nan jaya.


Allah dalam Al Qur’an mengatakan bahwa Ia tidak akan mengubah nasib suatu bangsa/kaum sampai bangsa/kaum itu mengubah apa yang ada didalam diri mereka yakni jiwa. Tanpa perubahan didalam lubuk jiwa yang akan menyinari perubahan pola pikir dan tindakan kita , maka cita-cita kemerdekaan yang kita impikan itu untuk mengubah nasib bangsa masih sangat jauh jalannya.

Minggu, 13 Juli 2008

Jogja


Pengalaman jalan dan muter-muter di Jogja ternyata membawa nikmat tersendiri. Kota ini memang sarat nuansa tradisi khas jawa, tenang, kalem tidak terburu-buru, sehingga adrenalin tidak perlu terpacu beda dengan Jakarta, yang semuanya serba terburu-buru sehingga adrenalin menyemprot kejantung membuat urat darah menciut dan jantung berdegup lebih cepat, mata gampang melotot, darah mudah naik sampai keubun-ubun, begitu menemui yang tak diharapkan langsung muncrat sumpah serapah.

Jogja memang beda, saya menyimpan kekaguman tersendiri mengenai kota ini, terutama karena ia mewakili kultur jawa, yang menurut saya merupakan salah satu budaya paling tinggi didunia. Orang jawa dikenal dengan budaya penuh tata krama yang mengekspresikan pendapatnya tidak hanya melalui kata – kata verbal akan tetapi juga melalui body language, sehingga dalam berhubungan dengan orang jawa perlu memperhatikan selain konteks, juga hal-hal seperti itu.

Bagi orang Sumatra yang terbiasa dengan komunikasi langsung verbal, membuatnya menjadi serba kikuk. Orang jawa bisa saja meng angguk, dan tersenyum tapi itu belum tentu bahwa ia setuju lho, bahkan bisa saja meskipun bicaranya lembut, tapi sebenarnya itu merupakan ekspresi marah. Jadi berkomunikasi dengan orang jawa memang diperlukan kearifan memahami sgala sesuatu yang tidak hanya sekedar verbal.

Sikap nrimo, yang sering menjadi sindiran , menurut saya justru menjadi letak kekuatannya orang jawa. Kalau direnungkan sikap menerima atas segala kejadian yang menimpa nya dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya bukanlah perkara mudah. Sikap menerima adalah sebuah pilihan untuk menerima segala hal yang datang dalam kehidupan ini dengan segenap konsekwensinya,yang sebenarnya sesuatu yang tak terelakkan dan tak dapat ditolak, karenanya ia harus diterima sebagai kehendak sang Gusti Allah.

Saya kira hal seperti itu muncul dari sikap pandangan (world view) yang melihat dan mencoba memahami kehendak Tuhan sebagai suatu hal yang mutlak yang tak perlu dilawan tetapi justru sebaliknya harus diterima. Sejak jaman dulu karena sikap seperti ini, maka berhubungan dengan orang jawa sebenarnya diperlukan suatu ketinggian budi bahasa, karena sebenarnya karakter orang jawa adalah non violence, anti kekerasan dan penindasan.

Betul penindasan dalam bentuk apapun perlu dilawan, tapi konsep melawan dilakukan melalui sikap menerima seperti air dan udara yang juga akan menyelimuti musuhnya, sehingga sipenindas atau si musuh mungkin tidak sadar ternyata telah dikuasai oleh yang ditindasnya. Ini konsep nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake.ini konsep tinggi banget dah.

Dalam sikap seperti itu, seolah-olah kekuatan yang diterima orang jawa dari Tuhan untuk melawan segala bentuk penindasan dan kezaliman, hanya akan dipergunakan jika ia tidak merusak tatanan alam semesta, manusia dan segenap isinya. Jika kekuasaan/kekuatan untuk melawan itu berpotensi merusak harmoni kosmos, maka kekuatan itu akan diubah dalam bentuk sikap nrimo keadaan dan berperilaku non violence, dan mengembalikan lagi kekuatan itu pada kehendak Tuhan yang mengatur jagad semesta ini dengan prinsip Gusti Allah Ora Sare, ini berarti menyerahkan segala urusan kepada Tuhan untuk menegakkan keadilan, harmoni kehidupan menurut cara yang dikehendaki Tuhan.

Kebiasaan tirakat, melalui laku mutih, nganyep, puasa senin kamis, dan lain sebagainya memungkinkan mereka melakukan perjalanan menuju alam rasa, alam mental untuk menemukan kesadaran dan kebenaran. Tentu saja semua ini bukan monopoli orang jawa, tetapi sekurangnya dalam pandangan saya sikap seperti ini sebenarnya lebih mengutamakan substansi ketimbang bentuk, namun bukan berarti meninggalkan segala bentuk formalitas, akan tetapi bentuk dan formalism hanya menjadi symbol sesuatu yang terdalam yang berada dialam perasaan , alam mental orang jawa yakni kebenaran, yang merupakan sumber kebahagiaan hidup manusia.

Sebagai suatu mozaik dalam kebudayaan Indonesia, ketinggian budaya jawa melahirkan kehalusan budi bahasa, namun demikian hal-hal yang salah kaprah kadang-kadang juga terjadi dalam kehidupan keseharian yakni eufemisme, yakni basa basi sikap anggah unggguh yang berlebihan sehingga mengesankan orang jawa kadang-kadang kurang bisa bersikap tegas dalam menyatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pas.

Suatu ketika dalam suatu kesempatan jalan-jalan mengitari Jogja dengan becak, yang entah sudah berapa kilometer jarak ditempuh, baik jalanan menurun dan menanjak semua terlewati, sampai peluh penarik becak jatuh berlelehan seperti minyak, dan akhirnya ketika sampai tujuan, dan si mas penarik becak ditanya berapa harus dibayar ongkos mbeca tadi, apa jawab nya “terserah bapak saja mau ngasihnya berapa “ !!, Nah ini dia, transaksi yang sebenarnya merupakan transaksi bisnis biasa antara penjual jasa dan pemakai jasa, berubah bentuk menjadi transaksi hati, yang dicari adalah keridhoan, keikhlasan hati masing-masing, berapa besarnya ongkos becak tadi, tanyalah pada hatimu, berapa kamu ikhlas memberi, namun lihatlah peluhnya yang berleleahan itu, bukankah ia juga menurut Rasulullah berhak menerima dan dibayar setimpal sebelum keringatnya mengering. Inilah indahnya transaksi bilamana hati yang dijadikan dasar setiap hubungan antar manusia. Bukankah keadilan itu ada di hati, di alam perasaan dan didalam diri kita masing-masing dan bukan hanya di alam pikiran, adil menurut pikiran belum tentu adil menurut perasaan, disitulah letaknya keindahan dan harmoni alam kehidupan yang diciptakan Tuhan.

Walahuallam bishawab

Senin, 26 Mei 2008

Sejauhmana Ke Indonesiaan Kita



Makna hakiki dari kebangkitan Nasional dapat kita sarikan dari perjalanan panjang bangsa menuju tumbuhnya nasionalisme

Meskipun dipengaruhi oleh banyak pengaruh luar seperti kebangkitan rasa kekitaan yang ditimbulkan akibat ketidak adilan yang dilakukan oleh penjajah kolonialisme Belanda dan pengalaman bersama merasakan penseritaan dibawah pemerintahan yang otoriter, selebihnya impulse kebangsaan kita tumbuh secara wajar dan normal

Munculnya impulse yang wajar dan normal tadi sebetulnya berakar dari kebutuhan dasar dari manusia itu sendiri, yakni kebutuhan untuk mencinta dan dicintai, dan kebutuhan untuk saling berhubungan dan keterlibatan satu sama lainnya.

Manusia secara alamiah membutuhkan orang lain, sebagai konsekwensinya manusia memerlukan proses kerjasama didalam kelompok, didalam masyarkat dan sebagai suatu bangsa.

Seratus tahun setelah suatu tanda tumbuhnya kebangkitan nasional Indonesia, pertanyaanya adalah apakah kita masing saling mencintai satu sama lainnya, apakah kita masih saling berhubungan dan terlibat satu sama lain?

Cinta, perasaan terhubung dan keterlibatan bersama yang saling menguntungkan adalah merupakan tiga daya dorong mendasar yang membentuk perasaan kekitaan. Yang perlu secara terus menerus ditumbuh kembangkan dan dirawat didalam seluruh kehidupan kita melalui perilaku yang berkualitas.

Inti dari perilaku yang berkualitas adalah kepedulian bersama, penerimaan , sikap saling memahami dan kepedulian serta sikap saling menghargai. Tiga basis yang mendesak ini juga perlu untuk di asuh, dirawat oleh tindakan yang berkualitas lainnya seperti hubungan antar individu yang bebas dari sikap-sikap memaksa dari satu individu kepada individu lainnya dalam kehidupan sehari-hari.

Tambahan lagi sikap-sikap dasar tadi harus dibina melalui praktek-pratek pemerintahan yang memiliki karakter tindakan yang berkualitas seperti perilaku yang pantas, kesungguhan/keikhlasan, penghargaan pada masyarakat, keterbukaan, dan kesediaan membuka diri terhadap perbedaan perpektif dalam mencari kebenaran bersama.

Pengalaman kehidupan kita sehari-hari akan memberikan kesadaran kepada kita bahwasanya kita saat ini merasakan kekurangan hal-hal tersebut diatas.

Pada saat ini manusia Indonesia cenderung hidup dengan sikap acuh tak acuh dan kehidupan yang dipenuhi sikap-sikap egosentris, kehidupannya hanya peduli pada dirinya sendiri, bahkan tak jarang saling menyakiti satu sama lain basik secara fisik,psikis, sosial maupun kultural. Perilaku yang menyakitkan ini menemukan titik kulminasinya dengan jelas pada tindakan-tindakan kekerasan.

Beberapa contoh kekerasan yang benar-benar tragik dan merupakan bencana besar dan memilukan, adalah tragedy pembunuhan massal akibat peristiwa G 30 S tahun 1965 dan meluasnya tragedi pembunuhan dan penyiksaan serta tindakan tidak manusiawi yang ditujukan kepada etnis minoritas china selama 13 – 15 May 1998.

Contoh yang paling mutakhir kekerasan menakutkan adalah sejumlah agresi fisik dan psikologis terhadap para pengikut Ahmadiyah.

Pengalaman hidup keseharian menyadarkan kita, sejak merdeka tahun 1945 sampai sekarang kita tidak memiliki suatu perilaku birokrasi yang berkualitas. Ketiadaan perilaku yang pantas dan keihklasan tersebut termanifestasi dari adanya kurupsi yang sistemik, tidak adanya respek pada masyarakat ini tampak sekali dari munculnya kebijakan-kebijakan publik yang memberatkan dan membebani kehidupan ekonomi masyarakat sehari-hari. Namun demikian , kita telah mencatat adanya kemajuan pemerintah yang menyadari perlunya keterbukaan dan kemauan untuk berhadapan dengan perbedaan pandangan.

Memperingati 100 tahun kebangkitan nasional, berarti melakukan evaluasi yang komprehensif menyangkut seberapa jauh kita, masyarakat dan pemerintah telah melakukan suatu tindakan-tindakan yang berkualitas, ketiadaan perilaku yang berkualitas tersebut mengakibatkan kekitaan , keIndonesiaan kita berada dalam kerawanan.

Dalam puncak peringatan Kebangkitan Nasional yang ke 100 ini, kita semakin menyadari kerentanan dari ke kitaan. ini , pertanyaannya adalah apa yang harus dilakukan agar bisa meningkatkan kekitaan kita ? Upaya keras dan sungguh-sungguh yang harus dilakukan adalah menumbuhkan terus menerus perilaku yang berkualitas, dan selanjutnya adalah mendidik, merawat kualitas perilaku personal dan interpersonal terutama oleh birokrasi.

Hal tersebut bila adilakukan secara massif dan terus menerus oleh pemimpin/pejabat pemerintah kelak akan mempengaruhi seluruh masyarakat pula dan akan mendorong masyarakat untuk meneladaninya yang pada akhirnya setiap orang akan bisa hidup dalam kedamaian baik secara personal maupun dalam hubungan antar personal..

(Quoted from Limas Sutanto Jakarta Post May 19 2008)

Rabu, 21 Mei 2008

Tak Bisa Pindah Kelain Hati


Kalau Taufik Ismail pernah menulis MAJOI (Malu Aku Jadi Orang Indonesia), saya malah ABAJOI (Aku Bangga Jadi Orang Indonesia), mungkin pak Taufik Ismail geram dan kecewa dengan perilaku budaya kita yang yang ndableg, dan terkesan semaunya, sehingga semua atribut yang konotasinya negatif pasti Indonesia dapat rangking, mulai negara paling banyak korupsinya, sampai kenegara yang melakukan penghancuran hutan paling cepat sedunia dan lain-lain. Pak Taufik Ismail memang tidak salah untuk bersikap pesimistik begitu.
Tapi bagi saya, yah sudahlah kita terima saja dulu semuanya, mungkin seperti orang yang sedang jalan memasuki terowongan yang belum tahu dimana ujungnya, tidak bisa kain kecuali optimis untuk percaya bahwa diujung terowongan pasti akan menemui cahaya.
Risiko orang jalan dikegelapan pasti keblasuk, kesandung dan jatuh serta tidak tahu arah atau disorientasi, bahkan mungkin tidak mampu melihat hidung sendiri, jadi sudah komplit penderitaannya.
Tapi coba kita renungkan perjalanan kita, meskipun kita terus diguncang prahara, semangat kebangsaan kita tetap tinggi, meski nasib sebagian warga kita yang mencari nafkah dinegara tetangga terus dilecehkan, tapi tanpa ada buruh kita disana, tidak mungkin mereka bisa membangun negeri mereka seperti sekarang ini.
Dalam terma fisikal, mereka jauh melampaui kita, tapi dalam terma kultural/budaya ternyata boleh dibilang kita melampaui mereka. Disini hidup begitu bebas dan merdeka dari rasa takut meski hidup sehari-hari tetap ruwet, tapi orang bisa mengekspresikan dirinya seluas mungkin , kemanapun kita pergi komunikasi mudah , karena semuanya menggunakan bahasa Indonesia yang sama dari sabang sampai merauke, yang beda cuma dialeknya saja. Dan disini hidup serasa di negeri sendiri, tidak seperti ditetangga tempatnya saja ditimur dan orangnya semuanya timur tapi baju budayanya western, bahasa bukan lagi bahasa ibunya, semua idiom kalau bukan barat berarti tidak modern.
Pengalaman berkunjung ke tetangga membuat perasaan sumpek, begitu pulang serasa menemui oasis, langsung pertama kali mendarat restauran sederhana diserbu, cari nasi padang.
Bangga menjadi orang Indonesia yang sampai hari ini masih bisa hidup senang meskipun kehidupan ekonomi semrawut, karena aku tak bisa pindah kelain hati.
Disini musik kita menjadi tuan rumah, disini masakan kita menjadi tuan rumah, disini kelakuan kita yang semau gue pun menjadi tuan rumah, kemanapun wajahmu kau palingkan yang kau lihat Indonesia dengan segala ekspresinya.
Disini kopi tubruk, rokok kretek, makan lesehan, bubur ayam,bahkan manusia zaman batu sampai manusia ultra modern bisa kita jumpai, dan kalau kita sapa semua bicara dalam bahasa yang sama yakni bahasa Indonesia.
Aku benar-benar bangga jadi orang Indonesia.

Rabu, 30 April 2008

GOING BEYOND


Rumi dalam salah satu karyanya Matsnawi dan Diwan menulis bahwa apa yang terlihat sesungguhnya tidak ada dan yang tak terlihat atau ghaib itulah hakikatnya yang ada, ini menegaskan bahwa kejadian di alam materi sebenarnya hanya refleksi alam non materi/kuantum, hanya refleksi dari hasil getaran pikiran dan perasaan manusia.


Dalam pandangan ini hakekat materi semata-mata adalah suatu hal yang remeh, dia hanyalah kulit luar, pakaian yang membungkus , jati diri lah yang sepatutnya dicari.
Pakaian bisa berupa atribut dan formalitas, proses-proses dan prosedur maupun gaya hidup, sebenarnya hanyalah penutup dari sesuatu yang lebih tinggi yakni karakter,makna dan values (nilai-nilai).


Pakaian bisa jadi mencerminkan karakter, nilai pemakainya akan tetapi bisa juga lain seperti melihat orang yang tampangnya sangar, ternyata dalam kesehariannya merupakan orang yang santun, sehingga ada pepatah don’t judge the book from it’s cover, jadi kadangkala penampilan menipu, kelihatannya santun, tidak tahunya kelakuannya seperti srigala, jadi pakaian atau atribut kadangkala menipu.


Meskipun begitu bangsa kita senang mengejar pakaian, bila perlu dandan sampai jadi korban mode kenapa seperti itu, kelihatannya supaya jadi seolah olah.
Maksudnya supaya menjadi seolah-olah modern , seolah-olah demokrasi, seolah-olah kerja keras, ini ekses budaya yang mengejar kulit luar dan segala sesuatu serba tampilan dan material, Anak-anak kita disekolah dipaksa untuk mengejar ranking tinggi, kalau pelajaran IPA jeblok, anak itu dianggap bodoh .


Demokrasi digelar alih-alih mengejar kesejahteraan rakyat, direduksi tinggal kegiatan pilih memilih pemimpin, jadi pemilu, pilkada yang buntut-buntutnya juga duit.


Baru-baru ini tujuh belas orang guru di Sumatra Utara terpaksa berurusan dengan Polisi gara-gara ketahuan sedang memperbaiki hasil ujian siswanya supaya bisa lulus UAN seratus persen.


Jadi semuanya yang dikejar semuanya serba atribut,, semuanya hanya mengejar image/citra supaya tampak seolah-olah, tak heran karena semuanya kosmetik maka mental kita jadi sakit.


Sebenarnya yang mau kita cari dan yang mau kita bentuk itu karakter, makna , values , esensi bukan pakaian. Pendidikan bukan formalitas, diadakan bukan sekedar untuk mengajar, tetapi merupakan methode penanaman nilai-nilai dan pembentukan karakter manusia, watak dan akhlak.


Seorang sahabat yang lelah karena disibukkan dengan pekerjaan untuk perubahan sistem dan prosedur organisasi, menjadi frustasi karena merasa pekerjaan-pekerjaan sebenarnya mengejar hal-hal remeh hanya atribut tetapi telah menjadi seolah-olah tujuan yang hampir-hampir menyita seluruh energi positifnya, dan menjadikannya tertekan dan tidak bahagia,


Betul kita perlu pakaian karena ia bisa menutupi aib diri, tapi keindahan yang terpancar dari jiwa kita akan memancar terang melebihi pakaian yang kita kenakan, itulah inner beauty yang muncul dari karakter.


Pakaian tak perlu mewah, yang penting bersih dan pantas jika dikenakan, lebih-lebih lagi pakaian itu harus sesuai dengan adat istiadat lokal, ini yang kadang-kadang kita lupakan, kita sering memakai pakaian orang lain yang belum tentu pantas


Ya kesibukan mengurus hal-hal yang bukan esensi memang menguras energi mental, oleh karena nya Rumi meminta kita untuk going beyond , menyeberangi bentuk-bentuk, untuk tidak terjebak didunia formalisme , untuk mengejar hal yang lebih dalam, yakni suatu hal yang memang hakekat dari segala sesuatu yaitu, karakter dan makna.


Demikian juga perubahan nasib kita belum akan terjadi, jika kita hanya disibukkan mengubah penampilan luar , Tuhan berjanji bahwa perubahan nasib baru akan terjadi jika kita terlebih dahulu mengubah yang ada dalam diri kita, yakni karakter`dan nilai2 diri kita.


Perubahan suatu organisasi menuju organisasi modern, memerlukan definisi dan penajaman karakter, tetntang nilai apa yang akan kita ingin bentuk, media tanam apa yang kita punyai , pupuk apa yang telah kita taburkan, dan terlebih lagi bibit apa yang akan kita semaikan, disinilah energi mental kita perlukan untuk menggapai perubahan itu, jadi ia sebuah perjalanan mendaki yang memerlukan ketabahan. (walahualam bi shawab)