saya mengutip tulisan bung Asro Kamal Rokan dari KBN Antara Minggu, 12 Juli 2009 begini katanya:
Alhamdulillah pemilihan presiden berjalan aman, tertib, dan demokratis. Rakyat telah memutuskan memilih satu dari tiga pasangan calon presiden dan wakil presiden. Dalam penghitungan di tempat pemungutan suara, rakyat pun telah mengetahui hasilnya dan memahami hakikat dari pemilihan – ada kalah dan ada yang menang.
Situasi yang aman dan tertib ini sumbangan terbesar rakyat pada bangsa dan demokrasi yang sedang tumbuh. Para calon presiden – yang menang dan yang kalah setelah keputusan final Komisi Pemilihan Umum (KPU) nanti -- harus berterima kasih pada rakyat yang ikhlas, rakyat yang diam, dan tanpa pamrih itu.
Melalui pemilihan yang tertib dan berkualitas ini, rakyat telah pula mempromosikan harkat dan martabat bangsa ini di dunia internasional. Mereka telah mensejajarkan bangsa dan negara ini dalam deretan negara-negara maju dalam demokrasi. Itulah cara rakyat mengangkat kebanggaan bangsa, yang sempat terpuruk ketika dilanda kerusuhan Mei 1998 lalu.
Setelah rakyat memperlihatkan keikhlasannya dan mengangkat martabat bangsa ini, bagaimana dengan tiga calon yang berkompetisi? Hasil quick count dan hitungan sementara KPU menempatkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono- Boediono meraih suara terbanyak, jauh melebihi Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto, dan Jusuf Kalla-Wiranto.
Hasil ini, meski secara resmi menunggu hitungan final KPU, namun telah dapat menjelaskan bahwa pilpres ini hampir pasti dimenangkan pasangan SBY-Boediono.
Dan, Alhamdulillah. Sehari setelah pilpres, SBY dan JK melakukan komunikasi. JK mengucapkan selamat kepada SBY. Sebaliknya, SBY memuji jasa besar JK terhadap negara dan negara masih membutuhkan JK. ”Masyarakat bisa melihat bahwa adakalanya berkompetisi bisa keras, namun tali silaturahim tetap terjalin. Inilah demokrasi yang semakin matang dan dewasa,’’ kata SBY kepada pers.
Bangsa besar ini bangga memiliki kedua pemimpin tersebut, pemimpin yang sadar kepentingan bangsa jauh lebih besar daripada memelihara kemarahan, apalagi dendam. Keduanya pun sadar bahwa para pendukung mereka justru bisa berdamai dan menjalankan hidup seperti semula. Tidak ada konflik dan semua berjalan damai. Inilah sisi indah demokrasi, yang baru tumbuh di negara besar ini.
Mohammad Natsir, Mohammad Roem, dan Hamka bertahun-tahun di penjara oleh Soekarno karena politik, tanpa proses pengadilan. Namun tokoh-tokoh besar itu memaafkan Soekarno. Mantan Presiden BJ Habibie langsung menyalami Abdurrahman Wahid, presiden yang dipilih MPR, menggantikannya. Keduanya tidak memutuskan silaturahim.
Saya ingat ketika itu: Rabu, 20 Oktober 1999, Pak Habibie hadir pada pelantikan Gus Dur sebagai presiden di Gedung MPR. Sehari sebelumnya, pidato pertanggungjawaban Pak BJH ditolak MPR dengan perbedaan suara tipis. Pendukung Pak BJH merasa dikhianati dan meminta Pak BJH terus maju. Namun, Pak BJH tidak bersedia. Ia justru meminta semua pendukungnya menjaga kedamaian dan mendukung presiden yang terpilih.
Usai pelantikan, sebagai wartawan yang telah lama mengenal Pak BJH, saya menemuinya turun dari lift lobi Gedung MPR. Saya memeluknya dan menyatakan rasa hormat atas sikapnya. Pak Habibie dengan tenang berkata, ''Gus Dur dan Megawati dipilih secara demokratis. Dukunglah mereka, saya percaya mereka akan membawa kemajuan bangsa ini.''
Suara Pak BJH terasa merdu di telinga saya. Setelah itu bersama Ibu Ainun, ia melangkah menuju mobil yang tidak lagi berplat RI-1. Pak BJH melambaikan tangannya kepada semua orang yang melepasnya dengan berbagai perasaan dan kesedihan. Negarawan itu melangkah dengan tegap. Ia tidak merasa dikalahkan, karena ia ikhlas dan tahu bahwa segala sesuatu adalah kehendak Allah.
Lima tahun setelah itu, 20 Oktober 2004, rakyat berharap Megawati Soekarnoputri melakukan hal yang sama terhadap Susilo Bambang Yudhoyono, yang dipilih dalam pemilihan langsung. MPR telah mengirimkan undangan, namun Megawati yang kalah pada pemilihan itu, tidak datang. Sebagai presiden terpilih, Pak SBY telah berupaya menjalin silaturrahim dengan mantan presiden tersebut, namun tidak ada respon.
Keduanya bertemu ketika pengundian nomor calon presiden, akhir Mei lalu. Mereka bersalaman. Pers menempatkan peristiwa langka itu sebagai berita utama. Namun, sebagian rakyat dapat merasakan bahwa peristiwa tersebut sebagai formalitas belaka, tidak benar-benar sebagai keinginan.
Pak Jusuf Kalla telah mengucapkan selamat pada Pak SBY. Ini indah. Pak JK telah melanjutkan tradisi para negarawan sebelumnya – orang-orang yang ikhlas, tidak dendam, dan tidak menempatkan kekuasaan sebagai tujuan. Orang-orang ikhlas memberikan jalan kepada yang lebih berhak, bukan penghadang. Pak JK negawaran. Seorang negarawan akan tetap dihormati, dikenang, dan dirindukan.
Dan, Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto -- yang lahir dari para negarawan besar bangsa ini -- kita harap pada saatnya, melakukan hal yang sama. Mereka dapat menjadikan bangsa ini indah ... (*)
Tampilkan postingan dengan label resonansi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resonansi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 04 Agustus 2009
Indonesia memerlukan budaya ekonomi baru
Rhenald Khasali dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar FE UI, mengatakan :Budaya ekonomi yang melekat pada masyarakat, dunia usaha, dan pemimpin negara di Indonesia saat ini dinilai sudah tidak adaptif terhadap perubahan yang terjadi pada pasar global sehingga akhirnya bangsa ini terus-menerus mengalami krisis.
Untuk itu, dibutuhkan transformasi nilai-nilai budaya ekonomi yang harus didorong dan dimulai dari pemimpin negara.
”Krisis yang terjadi berulang-ulang mencerminkan lemahnya kendali manajerial dalam pelaksanaan kebijakan. Tidak adanya pembelajaran yang diambil, lemahnya penerapan knowledge management, dan kurang kuatnya leadership dalam sistem perekonomian negara,” ujar Rhenald.
Kelemahan tersebut harus diisi dengan perencanaan strategis yang didukung dengan konsepsi manajemen modern yang dilandasi tata nilai, budaya ekonomi, dan core belief.
Itu semua akan membuat bangsa mampu beradaptasi dalam menghadapi berbagai perubahan yang semakin hari semakin berat, lebih variatif, dan datang lebih cepat.
Rhenald mengatakan, krisis yang datang terus-menerus, terakhir krisis 2008-2009, menunjukkan tidak siapnya manusia Indonesia di semua lini dalam menghadapi perubahan.
Perubahan dipandang lebih sebagai sebuah ancaman yang harus dilawan dan dihindari, bukan untuk dihadapi.
”Pengalaman menunjukkan, krisis justru terjadi pada saat manusia tidak mau atau enggan beradaptasi. Pada akhirnya, krisis memaksa manusia untuk berubah,” katanya.
Menurut Rhenald, saat ini perekonomian global, termasuk Indonesia, dipenuhi orang-orang yang hanya mengandalkan kemampuan teknis, tanpa dibekali keyakinan dan nilai-nilai baik.
Akibatnya, perekonomian dikendalikan oleh keserakahan, di mana pelaku ekonomi kerap mengambil jalan pintas untuk mengumpulkan keuntungan sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya.
Nilai-nilai negatif
Kesuksesan hanya melulu diukur dari materi dan kedudukan yang diperoleh. Faktor inilah yang kemudian mendorong terjadinya krisis keuangan global.
Dari kajiannya, Rhenald mengemukakan, ada 10 nilai budaya ekonomi yang negatif, yakni budaya jalan pintas, budaya konflik, budaya saling curiga, budaya mencela, budaya foto-foto, budaya pengerahan otot massa, tidak tahu malu, popularisme, budaya prosedur, dan budaya menunda.
Budaya konflik terjadi karena adanya paradigma yang memandang kompetisi sebagai agresi. Padahal, dalam kompetisi diperlukan pula kerja sama
Adapun budaya foto-foto, tutur Rhenald, diartikan sebagai budaya yang hanya mementingkan diri sendiri, tanpa melihat kondisi lingkungannya secara menyeluruh. (FAJ)
Untuk itu, dibutuhkan transformasi nilai-nilai budaya ekonomi yang harus didorong dan dimulai dari pemimpin negara.
”Krisis yang terjadi berulang-ulang mencerminkan lemahnya kendali manajerial dalam pelaksanaan kebijakan. Tidak adanya pembelajaran yang diambil, lemahnya penerapan knowledge management, dan kurang kuatnya leadership dalam sistem perekonomian negara,” ujar Rhenald.
Kelemahan tersebut harus diisi dengan perencanaan strategis yang didukung dengan konsepsi manajemen modern yang dilandasi tata nilai, budaya ekonomi, dan core belief.
Itu semua akan membuat bangsa mampu beradaptasi dalam menghadapi berbagai perubahan yang semakin hari semakin berat, lebih variatif, dan datang lebih cepat.
Rhenald mengatakan, krisis yang datang terus-menerus, terakhir krisis 2008-2009, menunjukkan tidak siapnya manusia Indonesia di semua lini dalam menghadapi perubahan.
Perubahan dipandang lebih sebagai sebuah ancaman yang harus dilawan dan dihindari, bukan untuk dihadapi.
”Pengalaman menunjukkan, krisis justru terjadi pada saat manusia tidak mau atau enggan beradaptasi. Pada akhirnya, krisis memaksa manusia untuk berubah,” katanya.
Menurut Rhenald, saat ini perekonomian global, termasuk Indonesia, dipenuhi orang-orang yang hanya mengandalkan kemampuan teknis, tanpa dibekali keyakinan dan nilai-nilai baik.
Akibatnya, perekonomian dikendalikan oleh keserakahan, di mana pelaku ekonomi kerap mengambil jalan pintas untuk mengumpulkan keuntungan sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya.
Nilai-nilai negatif
Kesuksesan hanya melulu diukur dari materi dan kedudukan yang diperoleh. Faktor inilah yang kemudian mendorong terjadinya krisis keuangan global.
Dari kajiannya, Rhenald mengemukakan, ada 10 nilai budaya ekonomi yang negatif, yakni budaya jalan pintas, budaya konflik, budaya saling curiga, budaya mencela, budaya foto-foto, budaya pengerahan otot massa, tidak tahu malu, popularisme, budaya prosedur, dan budaya menunda.
Budaya konflik terjadi karena adanya paradigma yang memandang kompetisi sebagai agresi. Padahal, dalam kompetisi diperlukan pula kerja sama
Adapun budaya foto-foto, tutur Rhenald, diartikan sebagai budaya yang hanya mementingkan diri sendiri, tanpa melihat kondisi lingkungannya secara menyeluruh. (FAJ)
Senin, 09 Februari 2009
Kebahagiaan vs kesuksesan

Coba klik kalimat happiness di google maka akan muncul sebanyak 13 juta halaman, sementara kalau kita klik kalimat sucsess, maka akan muncul sebanyak 344 juta halaman yang membahas cerita sukses.
Ini artinya ternyata kita semua lebih menyukai kesuksesan dibandingkan dengan kebahagiaan, padahal menjadi sukses belum tentu menjamin bahagia, sebaliknya malah kebahagiaan yang dicapai seseorang bisa menjadi modal untuk mempercepat keberhasilan.
Sekarang kita bahas dulu apa sih artinya sukses itu?, sukses itu berkaitan dengan sesuatu yang diinginkan dimasa depan, dan upaya-upaya apa yang dilakukan , harus sebanding dengan keinginannya itu.biasanya dalam tataran proses pencapaiannya , kita memasuki zona non comfort, alias menderita, apabila ternyata upayanya pas daya upayanya, maka keinginan itu dapat tercapai. Jadi sebenarnya sukses itu berkaitan dengan getting what you want. Oleh karenanya untuk konfirmasi terhadap kesusuksesan umumnya bisa dilihat mata.
Jadi kesuksesan biasanya bersifat eksternal dan ekso teris.
Sebaliknya kebahagiaan adalah soal pilihan sikap hidup. Untuk menjadi bahagia seseorang tidak perlu menunggu sukses, kebahagiaan itumenyikapi apa apa yang ada sebagai blessing dan gift, sehingga bisa melihat setiap moment dalam kehidupan sebagai sebuah moment keajaiban yang berhak untuk dinikmati dan dirayakan.Kebahagiaan itu berkaitan dengan wanting what you get, yakni menikmati dan merayakan setiap hari apa yang ada bukan menundanya merayakan yang nantinya ada, karena hari esok adalah mistery, sedang hari kemarin adalah history, sedang hari ini adalah hadiah atau gift, dari Tuhan , kenapa kita tidak menikmatinya saja sekarang, karena Dia berjanji akan menambah lagi kenikmatan-kenimatan itu jika kita tahu merayakannya dan mensukurinya dengan benar hidup ini.
Jumat, 21 November 2008
Pengap

Melihat acara-acara dan pemberitaan di televisi kita hari-hari ini, yang terasa memang pengap, udara di ruang batin kita terasa sesak.
Hampir tidak ada hari tanpa memberitakan kekisruhan, seperti demonstrasi mahasiswa, atau buruh, berita-berita kriminal , korupsi mutlak mendominasi semua acara pemberitaan di media televisi.
Slogan kalangan pers yang berbunyi bad news mean good news , berita buruk yang terjadi merupakan berita baik bagi usaha pemberitaan karena bisa meningkatnya tiras penerbitan yang ujung-ujungnya meningkatnya keuntungan media, benar-benar ditaati dan dijalankan dengan baik oleh pers kita.
Semua sudah maklum kalau para wartawan kita kebanyakan mangkalnya di kantor-kantor polisi, semata untuk mengejar berita-berita kriminal dan kehebohan lainnya.
Kita prihatin dengan hal ini, karena berita-berita negatif itu membangkitkan energi negatif didalam mental dan ruang batin kita. Kita menjadi marah, sedih dan kecewa, dengan mata melotot, serta menahan nafas begitu melihat dan mendengarnya.
Kalau energi negatif itu terus menerus timbul akibat dipacu oleh pemberitaan yang negatif, bukan tidak mungkin akan timbul sikap-sikap pesimis, putus asa dan bingung yang apada akhirnya hilangnya sikap saling percaya idalam masyarakat.
Memang semua yang terjadi di ruang publik kita kini, tidak lepas dari suasana batin kita semua, ditengah zaman yang berubah dan nilai-nilai keagungan terkikis. Ya karena selama ini kita hanya membangun materi, fisik, ekonomi sembari pembangunan mental , jiwa tertinggal.
Hari-hari ini kita semua mengalami pendangkalan jiwa dan hampir-hampir kehilangan makna keberagamaan. Ini musibah bagi kita semua .
Publik di negeri ini dibuat jengah dengan pemberitaan seseorang kaya dan dengan dalih legal keagamaan menikahi anak yang belum akil baliq dari rata-rata kelaziman dan norma umum, kita juga menjadi risih melihat orang-orang mempromosikan diri agar dianggap sebagai pemimpin dengan segudang dalih pembenar dan penuh percaya diri jor-joran memasang iklan politik..
Hari-hari ini kedepan apalagi menjelang pemilu seperti ini, akan banyak iklan-iklan politik seperti itu diruang publik kita, yang mengiklankan diri dengan penuh percaya diri, seolah olah menjadi orang yang paling tahu persoalan dari kita semua, padahal kita belum tahu sejauh apa yang sudah dilakukannya untuk negeri dan bangsa ini.
George Maxwell seorang pakar pernah mengatakan people don’t care about how much you know, until they know how much you care. Kita tidak peduli seberapa banyak pengetahuan seseorang mengenai sesuatu hal, akan tetapi yang dilihat adalah kepeduliannya kepada kita.
Kepedulian itu menyiratkan adanya pemihakkan dan pembelaan serta langkah konkrit yang telah dilakukkannya untuk kita, ada nuansa walked the talk.
Nilai-nilai fatsun, tata krama dan akhlak sosial dinegeri kita pun tampaknya mulai tercerabut, kehidupan kita kini, mulai dipenuhi dengan orientasi pragmatisme, nilai guna tanpa bingkai-bingkai nilai ideal. Orang menjadi terbiasa bertindak atas dorongan ambisi kuasa, materi dan hal-hal duniawi.
Nilai-nilai benar salah, baik buruk dan pantas tidak , dikalahkan oleh kepentingan praktis. Akibatnya banyak orang yang merasa boleh bertindak apapun demi meraih tujuannya.
Banyak fatsun baru yang berkembang seperti ungkapan, tidak ada persahabatan atau permusuhan abadi yang ada adalah kepentingan abadi, disini yang penting adalah pragmatisme, idealisme tidak lagi penting
Di zaman yang telah lewat ada kata-kata Nabi yang berbunyi , jangan berikan jabatan pada orang yang memintanya, tapi hari ini orang-orang modern berjuang jungkir balik untuk meminta jabatan.
Yah sekali lagi udara atau oxigen nilai-nilai kebaikan , sikap positif dan optimisme serta tindakan-tindakan heroisme di atmosfir mental kita sedang berkurang, sehingga kita menjadi sesak nafas karena pengap.
Semoga mereka orang-orang yang pada hari ini bekerja dan berjuang tanpa pamrih yang mewujudkan sikap kepedulian kepada sesama, ditempat-tempat yang sepi tetap teguh dalam pengabdiannya.
Semoga kita semua selamat melintasi semua ini. Subhanaka Allohuma Wa bihamdika, asyhaduan lahaila anta, astaghfirlahu wa atubuilaik
Wassalamu alaikum .
Selasa, 21 Oktober 2008
Tiga Kata

Tiga kata, ya hanya tiga kata yang bersumber dari sifat Tuhan cukup untuk membangun suatu peradaban.
Peradaban adalah suatu keteraturan, suatu tata krama dalam berhubungan dengan Tuhan sebagai sang Pencipta kehidupan, dengan alam semesta, bumi tempat kita berpijak dan dibuai dalam kasih sayang alam dan dengan sesama manusia.
Tanpa 3 kata itu , yang terjadi hanyalah kerusakan dan chaos, baik dialam fisik dan terutama dialam mental, dan itu sudah terjadi sekarang ini, persis seperti pertanyaan malaikat kepada Tuhan pada awal saat akan menciptakan ras manusia, yang akan membuat kerusakan dimuka bumi.
Bumi kita sekarang mengalami banyak krisis, mulai pemanasan global, moneter, ekonomi dan yang terparah adalah krisis kemanusiaan, itu karena kita kehilangan 3 kata tersebut.
Ketiga kata itu adalah salam, maaf dan terimakasih. Salam itu maknanya luas bukan sekadar berjabat tangan atau salam salaman, akan tetapi menuntut tindakan konkrit menyebarkan keselamatan bagi orang lain ,dengan cara memuliakannya.
Salam dalam arti yang lebih luas bisa juga berarti pasrah, tapi bukan pasrah dalam pengertian tidak berbuat apa-apa, pasrah fatalisme, pasrah disini diartikan tunduk sepenuhnya pada kehendak Tuhan, yang mewujud dalam hukum alam semesta, baik semesta fisik, semesta jasamani, semesta mental dan semesta jiwa, yang kesemuanya memiliki prinsip-prinsip kerja sendiri-sendiri, kelihatannya beda2 tapi semuanya dalam kesatuan yang harmonis.
Menolak bersikap pasrah dalam pengertian tersebut diatas, sebenarnya kita melawan diri sendiri dan yang terjadi kita sendiri yang konyol.
Salam berarti memuliakan, dimulai dengan kata kemudian menjalani kata-kata sampai kemudian kita merasakan berkah yang terkandung didalamnya.
Ibarat obat satu butir pil, tapi manjur dan mustajab dan menyembuhkan itulah salam.Tanpa salam tidak akan ada masyarakat, karena manusia akan saling memangsa homo homini lupus
Selanjutnya kata maaf, sorry, punten adalah ungkapan kerendahan hati bahwa sudah kodratnya kalau manusia itu ditakdirkan lemah dan sering alpa dan berbuat salah, meskipun sudah sepenuh diri kita menjalani hidup dengan penuh kehati-hatian,tetap saja tanpa disengaja ataupun tidak kita berbuat salah, itu karena tidak sepenuhnya kita bisa mengendalikan semesta diri kita.
Tanpa ada kata maaf yang terjadi hanyalah bara api yang akan membakar diri manusia dan menghancurkannya.
Kata maaf ini gampang mengucapkan cuma sulit melaksanakannya, saking sulitnya sampai-sampai Tuhan menjanjikan surga bagi mereka yang bisa memaafkan kesalahan oranglain, disamping itu sebenarnya memaafkan itu bukan untuk siapa-siapa tapi buat diri sendiri.
Kata yang ketiga adalah terimakasih, banyak kejadian buruk menimpa karena kita tidak berterimakasih atas apa yang kita terima, bumi kita rusak juga karena banyak manusia yang tidak pernah berterimakasih pada bumi.
Berterimakasih itu hakikatnya merayakan dan memuliakan segenap apa yang kita dapatkan dari Tuhan, manusia lain dan alam semesta, yang tiada lain berterima kasih pada diri kita sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)