Minggu, 13 Juli 2008

Jogja


Pengalaman jalan dan muter-muter di Jogja ternyata membawa nikmat tersendiri. Kota ini memang sarat nuansa tradisi khas jawa, tenang, kalem tidak terburu-buru, sehingga adrenalin tidak perlu terpacu beda dengan Jakarta, yang semuanya serba terburu-buru sehingga adrenalin menyemprot kejantung membuat urat darah menciut dan jantung berdegup lebih cepat, mata gampang melotot, darah mudah naik sampai keubun-ubun, begitu menemui yang tak diharapkan langsung muncrat sumpah serapah.

Jogja memang beda, saya menyimpan kekaguman tersendiri mengenai kota ini, terutama karena ia mewakili kultur jawa, yang menurut saya merupakan salah satu budaya paling tinggi didunia. Orang jawa dikenal dengan budaya penuh tata krama yang mengekspresikan pendapatnya tidak hanya melalui kata – kata verbal akan tetapi juga melalui body language, sehingga dalam berhubungan dengan orang jawa perlu memperhatikan selain konteks, juga hal-hal seperti itu.

Bagi orang Sumatra yang terbiasa dengan komunikasi langsung verbal, membuatnya menjadi serba kikuk. Orang jawa bisa saja meng angguk, dan tersenyum tapi itu belum tentu bahwa ia setuju lho, bahkan bisa saja meskipun bicaranya lembut, tapi sebenarnya itu merupakan ekspresi marah. Jadi berkomunikasi dengan orang jawa memang diperlukan kearifan memahami sgala sesuatu yang tidak hanya sekedar verbal.

Sikap nrimo, yang sering menjadi sindiran , menurut saya justru menjadi letak kekuatannya orang jawa. Kalau direnungkan sikap menerima atas segala kejadian yang menimpa nya dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya bukanlah perkara mudah. Sikap menerima adalah sebuah pilihan untuk menerima segala hal yang datang dalam kehidupan ini dengan segenap konsekwensinya,yang sebenarnya sesuatu yang tak terelakkan dan tak dapat ditolak, karenanya ia harus diterima sebagai kehendak sang Gusti Allah.

Saya kira hal seperti itu muncul dari sikap pandangan (world view) yang melihat dan mencoba memahami kehendak Tuhan sebagai suatu hal yang mutlak yang tak perlu dilawan tetapi justru sebaliknya harus diterima. Sejak jaman dulu karena sikap seperti ini, maka berhubungan dengan orang jawa sebenarnya diperlukan suatu ketinggian budi bahasa, karena sebenarnya karakter orang jawa adalah non violence, anti kekerasan dan penindasan.

Betul penindasan dalam bentuk apapun perlu dilawan, tapi konsep melawan dilakukan melalui sikap menerima seperti air dan udara yang juga akan menyelimuti musuhnya, sehingga sipenindas atau si musuh mungkin tidak sadar ternyata telah dikuasai oleh yang ditindasnya. Ini konsep nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake.ini konsep tinggi banget dah.

Dalam sikap seperti itu, seolah-olah kekuatan yang diterima orang jawa dari Tuhan untuk melawan segala bentuk penindasan dan kezaliman, hanya akan dipergunakan jika ia tidak merusak tatanan alam semesta, manusia dan segenap isinya. Jika kekuasaan/kekuatan untuk melawan itu berpotensi merusak harmoni kosmos, maka kekuatan itu akan diubah dalam bentuk sikap nrimo keadaan dan berperilaku non violence, dan mengembalikan lagi kekuatan itu pada kehendak Tuhan yang mengatur jagad semesta ini dengan prinsip Gusti Allah Ora Sare, ini berarti menyerahkan segala urusan kepada Tuhan untuk menegakkan keadilan, harmoni kehidupan menurut cara yang dikehendaki Tuhan.

Kebiasaan tirakat, melalui laku mutih, nganyep, puasa senin kamis, dan lain sebagainya memungkinkan mereka melakukan perjalanan menuju alam rasa, alam mental untuk menemukan kesadaran dan kebenaran. Tentu saja semua ini bukan monopoli orang jawa, tetapi sekurangnya dalam pandangan saya sikap seperti ini sebenarnya lebih mengutamakan substansi ketimbang bentuk, namun bukan berarti meninggalkan segala bentuk formalitas, akan tetapi bentuk dan formalism hanya menjadi symbol sesuatu yang terdalam yang berada dialam perasaan , alam mental orang jawa yakni kebenaran, yang merupakan sumber kebahagiaan hidup manusia.

Sebagai suatu mozaik dalam kebudayaan Indonesia, ketinggian budaya jawa melahirkan kehalusan budi bahasa, namun demikian hal-hal yang salah kaprah kadang-kadang juga terjadi dalam kehidupan keseharian yakni eufemisme, yakni basa basi sikap anggah unggguh yang berlebihan sehingga mengesankan orang jawa kadang-kadang kurang bisa bersikap tegas dalam menyatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pas.

Suatu ketika dalam suatu kesempatan jalan-jalan mengitari Jogja dengan becak, yang entah sudah berapa kilometer jarak ditempuh, baik jalanan menurun dan menanjak semua terlewati, sampai peluh penarik becak jatuh berlelehan seperti minyak, dan akhirnya ketika sampai tujuan, dan si mas penarik becak ditanya berapa harus dibayar ongkos mbeca tadi, apa jawab nya “terserah bapak saja mau ngasihnya berapa “ !!, Nah ini dia, transaksi yang sebenarnya merupakan transaksi bisnis biasa antara penjual jasa dan pemakai jasa, berubah bentuk menjadi transaksi hati, yang dicari adalah keridhoan, keikhlasan hati masing-masing, berapa besarnya ongkos becak tadi, tanyalah pada hatimu, berapa kamu ikhlas memberi, namun lihatlah peluhnya yang berleleahan itu, bukankah ia juga menurut Rasulullah berhak menerima dan dibayar setimpal sebelum keringatnya mengering. Inilah indahnya transaksi bilamana hati yang dijadikan dasar setiap hubungan antar manusia. Bukankah keadilan itu ada di hati, di alam perasaan dan didalam diri kita masing-masing dan bukan hanya di alam pikiran, adil menurut pikiran belum tentu adil menurut perasaan, disitulah letaknya keindahan dan harmoni alam kehidupan yang diciptakan Tuhan.

Walahuallam bishawab

1 komentar:

  1. Pentingnya integritas di dalam mensikapi kebenaran hakiki yang berasal dari hati.

    Pada umunya inti dari keinginan sebagian besar manusia lebih banyak ditujukan untuk memuaskan diri sendiri daripada menolong sesama manusia. Banyak hal, dalam kasus yang berbeda dengan "Penarik becak di Jogja" yang menunjukan tingkat kejujuran yang rendah. Hal yang merupakan anomali dari realitas yang ada dengan sang penarik becak tersebut seperti tingkat kejujuran yang rendah, seenaknya sendiri mengambil milik orang lain, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, sikut kanan - sikut kiri, tendang depan- tendang belakang, tidak perduli dengan kepentingan orang lain asalkan tujuan pribadi tercapai. Bahkan, di berbagai kasus, menggunakan jabatan untuk memperkaya diri sendiri adalah hal lazim yang dilakukan banyak orang. Di berbagai media cetak dan elektronik sering kali kita mendapatkan informasi tentang oknum penegak hukum yang memainakan celah hukum untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

    Di dalam kasus berbeda, saya pernah mendatangi sebuah ruangan di salah satu Perusahaan BUMN bahkan juga Departemen milik pemerintah yang masih sepi pada saat jam kantor sudah mulai, dan sudah sepi kembali sebelum jam istirahat siang dimulai. Padahal, mereka digaji untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan taat pada peraturan.

    Ironis memang. Namun, itulah realitas hidup. Bahwa sesungguhnya, nilai sebuah integritas sangatlah mahal karena sesungguhnya ia adalah pancaran keagungan Allah Swt yang keluar dari hati nurani terdalam manusia. Sebagai manusia, selayaknya kita mencari cara dan kesempatan agar pancaran itu dapat bersinar terang dalam hidup kita, sehingga nilai-nilai integritas dapat menjadi warna dalam perjalanan kita menuju gerbang kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual.

    Orang-orang yang memiliki integritas akan menjadi manusia yang "utuh", sesuai antara pikiran, perkataan, dan perbuatan.

    Insya Allah.

    BalasHapus