Jumat, 07 November 2008

Meritokrasi


“If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible, who still wonders if the dream of our founders is alive in our time, who still questions the power of our democracy, to night is your answer , change has come to America “

itu pidato Obama pada saat ia memenangi perhitungan suara dalam pemilihan presiden di Amerika Serikat.
Kata-kata Obama dalam pidato itu intinya menegaskan bahwa Amerika adalah negeri kesempatan , land of opportunity, dimana semua mimpi-mimpi bisa diwujudkan, dimana potensi terbaik manusia bisa dieksplorasi, dieksploitasi, tidak peduli ras,asal usul keturunan, perbedaan agama sehingga melahirkan semboyan the great American dreams.

Inilah mimpi besar bangsa Amerika yang bersumber dari mimpi pengembara, imigran dari berbagai bangsa, para pencari peruntungan yang mengadu nasib di benua baru, pada pertengahan abad lalu yang menjadi pioneer dan founding fathers nya bangsa itu.

Mimpi itu menegaskan bahwa siapun dia yang berjuang dan bekerja sepenuhnya mengejar mimpinya, sekalipun segila ataupun senaïf apapun , dia berhak memperoleh hak dan kesempatan untuk mewujudkan dan mengalami serta menikmati mimpinya.

Untuk itulah mereka berjuang sepenuh tenaga membangun system demokrasi hingga hari ini, dan masih terus berjuang hingga hari ini melawan common enemy yakni ketidakadilan , gender, rasisme, arogansi, perbedaan paham, agama, chauvinism ,diskriminasi dan lainnya.

Inspirasi i yang datang dari bangsa Perancis yakni liberte, egalite, fraternite, itulah yang merasuki bangsa Amerika , yang sebenarnya ini pesan semua agama, bahwa semua manusia pada hakekatnya sama, yang membedakannya hanyalah taqwanya kepada Tuhan, takwa selalu menghasilkan manfaat dan kontribusi kepada manusia, sedang maksiat hanya menimbulkan mudharat dan kekacauan dimana-mana.

Apa yang saya sampaikan diatas bukan maksudnya mau memuja-muja Amerika, karena kita pun saat ini tengah berjuang untuk mewujudkan mimpi kita dengan platform yang sama.

Seorang pengamat politik dari Singapore pernah mengatakan bahwa ada tiga syarat utama jika suatu masyarakat itu hendak maju , yaitu bahwa hubungan kemasyarakatan harus menerapkan prinsip meritokrasi, yakni penghargaan masyarakat sepantasnya diberkan kepada mereka yang berprestasi dan member kontribusi yang paling banyak. Hal ini belum sepenuhnya berjalan di negeri kita, karena hubungan sosial kita masih diwarnai distorsi berupa nepotisme, kolusi dan korupsi, bahkan primordialisme masih kuat berakar dalam kehidupan sosial kita.

Hal ini semakin diperparah dengan budaya kita yang masih penuh dengan formalitas dan simbol-simbol. Orang masih dinilai berdasarkan atributnya, belum jati dirinya, kita masih terkagum kagum melihat gelar seseorang, padahal belum tentu kemampuannya, perilakunya setara dengan gelarnya. Sampai sekarangpun dalam penerimaan pegawai baik di Departemen atau perusahaan masih mementingkan gelar disbanding kemampuannya.

Dalam beragama apalagi, orang dinilai shaleh hanya karena gelarnya haji, ibadah ritualnya rajin meskipun akhlaknya belum tentu. Semakin maju suatu masyarakat maka system meritokrasi semakin mengemuka dan dibutuhkan .
Syarat lebih lanjut dari suatu kemajuan adalah kemudahan mengakses informasi, tidak boleh ada barrier to entry atas informasi. Sedemikian pentingnya informasi itu karena sebenarnya itulah yang semata-mata dicari manusia dalam semua lintasan peradaban, terlebih lagi dialam modern dewasa ini. Hanya dengan informasilah segala sesuatunya bergerak, dan siapa saja yang menguasai informasi, maka ia menguasai kemajuan. Jadi information is a power, ia adalah bahan baku ilmu pengetahuan manusia.

Informasi dapat di akses melalui beragam cara, mulai dari pendidikan, hingga hiburan, apalagi saat ini media informasi begitu beragam, maka berikanlah sebanyak banyaknya informasi, terutama juga yang bersifat langitan/heavenly, supaya kita bisa melihat wisdom, ultimate goal dari kehidupan kita.
Dan prasyarat kemajuan lainnya adalah kaum muda, yang terdidik dan mengambil peran elementer dalam kehidupan sosial kita. Amerika sudah membuktikannya dengan banyak pemimpin muda yang tampil menjadi presiden, tidak hanya Obama yang menjadi presiden diusia 47 tahun, tapi bahkan John F Kennedy lebih muda lagi 43 tahun sudah menjadi Presiden Amerika. Dimanapun didunia ini yang mengambil inisiatif kemajuan suatu kaum adalah orang muda, bahkan bangsa kita dimulai dari sumpah para pemuda, Ir Soekarno menjadi presiden dalam usia 40 tahun.
Di negeri kita tampaknya senioritas masih jadi prioritas, tak apa karena Jepang pun sama, karena senioritaspun bisa didasarkan pada meritokrasi.

Sekali tiga unsure ini bisa mengambil tempatnya yang layak dalam hubungan sosial kemasyarakatan kita, insya Allah kemajuan akan ada ditangan kita , kita juga tidak kekurangan orang seperti Obama kok.

2 komentar:

  1. Sebenarnya, biaya untuk mempublikasikan peraturan di internet yang dapat diakses umum secara gratis tidaklah terlalu mahal. Dan ini sudah menjadi kewajiban moral para penguasa di negeri ini. Namun sayang, lembaga informasi ini pada umumnya kurang berfungsi. Dengan tidak berfungsinya lembaga Informasi ini, maka distorsi informasi semakin lebar.

    BalasHapus
  2. Urun Rembug: Mengungkap Esensi Demokrasi di PT Jaim

    Demokrasi artinya memberikan kesempatan semua orang untuk maju tanpa menghiraukan perbedaan ras, kelamin, koneksi dll. Demokrasi sebagai kepemimpinan oleh rakyat dimana kekuasaan tertinggi berada ditangan rakyat dan dijalankan langsung oleh wakil-wakil yang mereka pilih di bawah sistem pemilihan bebas.

    Demokrasi sesungguhnya adalah seperangkat gagasan dan prinsip tentang kebebasan, tetapi juga mencakup seperangkat praktek dan prosedur yang terbentuk melalui proses panjang dan sering berliku-liku. Demokrasi adalah pelembagaan dari kebebasan, yang terdiri dari atas: Kedaulatan rakyat, Kepemimpinan berdasarkan persetujuan dari yang dipimpin, Kekuasaan mayoritas, Hak-hak minoritas, Jaminan hak-hak asasi manusia, Pemilihan yang bebas dan jujur, Persamaan didepan hukum, Pembatasan kepemimpinan berdasarkan aturan (konstitusional), Pluralisme sosial,ekonomi dan politik, Nilai-nilai toleransi, pragmatisme, kerjasama dan mufakat. Ini yang perlu ada dalam budaya perusahaan.

    Sebetulnya budaya perusahaan kita sudah maju di tingkat bawah dan menengah, tapi harus diteruskan oleh lapisan atas. Suatu saat saya percaya akan terealisasi juga. Buktinya..? Sekarang banyak karyawan muda dan kalangan Pengurus SP punya keberpihakan yang besar pada lapisan karyawan di tingkat bawah. Saya melihat ada kesadaran politis yang besar. Ada sense of democracy yang besar , tinggal menunggu waktu saja agar organisasi SP lebih berani untuk mempraktekannya.

    Saya memang concern dengan demokrasi. Dulu ada petinggi kita yang pernah bertanya, apakah tujuan suatu perusahaan hanya demokrasi ? Bukankah kita juga perlu makan, kerja dll ? Demokrasi belakangan saja, kalau yang lain sudah terpenuhi, itu katanya. Saya akui itu benar, tujuan kita bukan hanya demokrasi. Tapi saya percaya itu semua dapat dicapai melalui demokrasi, dan bahkan akan lebih bagus pencapaiannya. Demokrasi itu tolok ukur yang paling obyektif dan kita sudah siap untuk itu

    BalasHapus