Rabu, 30 April 2008

GOING BEYOND


Rumi dalam salah satu karyanya Matsnawi dan Diwan menulis bahwa apa yang terlihat sesungguhnya tidak ada dan yang tak terlihat atau ghaib itulah hakikatnya yang ada, ini menegaskan bahwa kejadian di alam materi sebenarnya hanya refleksi alam non materi/kuantum, hanya refleksi dari hasil getaran pikiran dan perasaan manusia.


Dalam pandangan ini hakekat materi semata-mata adalah suatu hal yang remeh, dia hanyalah kulit luar, pakaian yang membungkus , jati diri lah yang sepatutnya dicari.
Pakaian bisa berupa atribut dan formalitas, proses-proses dan prosedur maupun gaya hidup, sebenarnya hanyalah penutup dari sesuatu yang lebih tinggi yakni karakter,makna dan values (nilai-nilai).


Pakaian bisa jadi mencerminkan karakter, nilai pemakainya akan tetapi bisa juga lain seperti melihat orang yang tampangnya sangar, ternyata dalam kesehariannya merupakan orang yang santun, sehingga ada pepatah don’t judge the book from it’s cover, jadi kadangkala penampilan menipu, kelihatannya santun, tidak tahunya kelakuannya seperti srigala, jadi pakaian atau atribut kadangkala menipu.


Meskipun begitu bangsa kita senang mengejar pakaian, bila perlu dandan sampai jadi korban mode kenapa seperti itu, kelihatannya supaya jadi seolah olah.
Maksudnya supaya menjadi seolah-olah modern , seolah-olah demokrasi, seolah-olah kerja keras, ini ekses budaya yang mengejar kulit luar dan segala sesuatu serba tampilan dan material, Anak-anak kita disekolah dipaksa untuk mengejar ranking tinggi, kalau pelajaran IPA jeblok, anak itu dianggap bodoh .


Demokrasi digelar alih-alih mengejar kesejahteraan rakyat, direduksi tinggal kegiatan pilih memilih pemimpin, jadi pemilu, pilkada yang buntut-buntutnya juga duit.


Baru-baru ini tujuh belas orang guru di Sumatra Utara terpaksa berurusan dengan Polisi gara-gara ketahuan sedang memperbaiki hasil ujian siswanya supaya bisa lulus UAN seratus persen.


Jadi semuanya yang dikejar semuanya serba atribut,, semuanya hanya mengejar image/citra supaya tampak seolah-olah, tak heran karena semuanya kosmetik maka mental kita jadi sakit.


Sebenarnya yang mau kita cari dan yang mau kita bentuk itu karakter, makna , values , esensi bukan pakaian. Pendidikan bukan formalitas, diadakan bukan sekedar untuk mengajar, tetapi merupakan methode penanaman nilai-nilai dan pembentukan karakter manusia, watak dan akhlak.


Seorang sahabat yang lelah karena disibukkan dengan pekerjaan untuk perubahan sistem dan prosedur organisasi, menjadi frustasi karena merasa pekerjaan-pekerjaan sebenarnya mengejar hal-hal remeh hanya atribut tetapi telah menjadi seolah-olah tujuan yang hampir-hampir menyita seluruh energi positifnya, dan menjadikannya tertekan dan tidak bahagia,


Betul kita perlu pakaian karena ia bisa menutupi aib diri, tapi keindahan yang terpancar dari jiwa kita akan memancar terang melebihi pakaian yang kita kenakan, itulah inner beauty yang muncul dari karakter.


Pakaian tak perlu mewah, yang penting bersih dan pantas jika dikenakan, lebih-lebih lagi pakaian itu harus sesuai dengan adat istiadat lokal, ini yang kadang-kadang kita lupakan, kita sering memakai pakaian orang lain yang belum tentu pantas


Ya kesibukan mengurus hal-hal yang bukan esensi memang menguras energi mental, oleh karena nya Rumi meminta kita untuk going beyond , menyeberangi bentuk-bentuk, untuk tidak terjebak didunia formalisme , untuk mengejar hal yang lebih dalam, yakni suatu hal yang memang hakekat dari segala sesuatu yaitu, karakter dan makna.


Demikian juga perubahan nasib kita belum akan terjadi, jika kita hanya disibukkan mengubah penampilan luar , Tuhan berjanji bahwa perubahan nasib baru akan terjadi jika kita terlebih dahulu mengubah yang ada dalam diri kita, yakni karakter`dan nilai2 diri kita.


Perubahan suatu organisasi menuju organisasi modern, memerlukan definisi dan penajaman karakter, tetntang nilai apa yang akan kita ingin bentuk, media tanam apa yang kita punyai , pupuk apa yang telah kita taburkan, dan terlebih lagi bibit apa yang akan kita semaikan, disinilah energi mental kita perlukan untuk menggapai perubahan itu, jadi ia sebuah perjalanan mendaki yang memerlukan ketabahan. (walahualam bi shawab)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar